Disbud Bantul Bongkar Sejarah Kapitan Tan Djin Sing hingga Madukismo

2 hours ago 2

Disbud Bantul Bongkar Sejarah Kapitan Tan Djin Sing hingga Madukismo

Dinas Kebudayaan (Disbud) Bantul mengangkat kisah tokoh lintas identitas, Kapitan Tan Djin Sing, hingga jejak industri legendaris Pabrik Gula Madukismo dalam kegiatan internalisasi sejarah. Kegiatan yang digelar di Kalurahan Tirtonirmolo, Kasihan, Rabu (13/5/2026) ini diikuti pelajar, mahasiswa, hingga komunitas sejarah.

BANTUL — Upaya menghidupkan kembali ingatan sejarah lokal terus digencarkan di Bantul. Kali ini, Dinas Kebudayaan (Disbud) Bantul mengangkat kisah tokoh lintas identitas, Kapitan Tan Djin Sing, hingga jejak industri legendaris Pabrik Gula Madukismo dalam kegiatan internalisasi sejarah yang menyasar generasi muda.

Menggali Jejak Kapitan Tan Djin Sing di Tanah Mataram

Kegiatan yang digelar di Kalurahan Tirtonirmolo, Kasihan, Rabu (13/5/2026) ini diikuti pelajar, mahasiswa, hingga komunitas sejarah. Fokus utamanya adalah memperkuat pemahaman sejarah lokal, terutama sosok Kapitan Tan Djin Sing yang memiliki peran penting dalam dinamika Kraton Yogyakarta dan Mataram.

Sekretaris Disbud Bantul, Sarjiman, S.IP., M.E, menyebut tokoh ini masih jarang dikaji secara mendalam oleh generasi muda, padahal kontribusinya sangat besar.

“Kapitan Tan Djin Sing merupakan tokoh etnis Tionghoa yang memiliki peran besar di lingkungan Kraton Mataram hingga diangkat menjadi bupati karena jasanya,” ujarnya.

Namun, perjalanan hidupnya tidak lepas dari dilema identitas, terutama saat Perang Diponegoro yang juga berdampak besar pada komunitas Tionghoa.

“Dalam perjalanan hidupnya memang ada kontradiksi. Di satu sisi ia bagian dari etnis Tionghoa, namun di sisi lain menjadi bagian dari kraton. Ada konflik batin di situ,” kata Sarjiman.

Dalam masyarakat Jawa, sosoknya bahkan dikenal melalui ungkapan “Cino wurung, Londo dhurung, Jowo nanggung”, yang menggambarkan posisi sosialnya di antara berbagai identitas budaya.

Madukismo: Dari Pabrik Gula Padokan hingga Warisan Hidup

Selain itu, Disbud Bantul juga mengulas sejarah Pabrik Gula Madukismo yang dulunya dikenal sebagai Pabrik Gula Padokan. Pabrik ini sempat hancur akibat konflik, sebelum akhirnya dibangun kembali pada masa Sri Sultan Hamengkubuwono IX.

Sarjiman menilai keberlangsungan Madukismo hingga kini menjadi bukti penting peran industri gula dalam kehidupan sosial-ekonomi masyarakat Bantul dan DIY.

“Madukismo ini menarik karena tidak hanya punya nilai sejarah, tapi juga tetap hidup dan beroperasi. Jadi bukan sekadar cagar budaya tanpa fungsi,” jelasnya.

Tak hanya industri, tradisi budaya seperti Cembengan dan Tebu Manten juga masih dilestarikan sebagai bagian dari warisan tak benda yang melekat pada sejarah pabrik tersebut.

Libatkan Pelajar hingga Komunitas Sejarah

Kepala Bidang Sejarah, Permuseuman, Bahasa, dan Sastra Disbud Bantul, Purwanto, S.Pd., M.Si, menjelaskan kegiatan ini dirancang untuk memperluas literasi sejarah lokal di tengah masyarakat.

Peserta yang dilibatkan mulai dari pelajar, mahasiswa, komunitas budaya, hingga masyarakat umum agar transfer pengetahuan bisa berjalan lebih luas dan berkelanjutan.

“Kami berharap peserta tidak hanya memahami sejarah ini, tetapi juga berani menyebarkan kembali informasi yang benar kepada komunitas dan lingkungan masing-masing,” katanya.

Kegiatan ini juga menghadirkan sejumlah narasumber, di antaranya Dr. Julianto Ibrahim, M.Hum (UGM), Reza Maulana (peneliti Tionghoa), dan Aga Yurista Pambayun (Komunitas Roemah Toea). (Advertorial)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Abdul Hamied Razak

Abdul Hamied Razak Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online

Read Entire Article
Ekonomi | Asset | Lokal | Tech|