Bahaya Medsos bagi Perempuan, Picu Stres hingga Ganggu Keluarga

4 hours ago 2

Harianjogja.com, KARAWANG— Arus deras informasi di era digital membawa konsekuensi serius bagi kesehatan mental, terutama bagi perempuan. Psikiater Lahargo Kembaren mengingatkan kalangan perempuan, khususnya para ibu, untuk lebih waspada terhadap tekanan psikologis yang dipicu penggunaan media sosial (medsos) secara berlebihan.

Menurut Lahargo, perempuan saat ini menghadapi tantangan baru berupa paparan informasi yang terus-menerus, yang tanpa disadari dapat memicu stres. Kondisi ini diperparah dengan fenomena Fear of Missing Out (FOMO) atau rasa takut tertinggal tren, hingga kebiasaan membandingkan kehidupan diri dengan orang lain di media sosial.

“Comparison culture atau membanding-bandingkan itu pencuri utama kebahagiaan,” kata Lahargo dalam seminar kejiwaan di Bogor, Kamis.

Ia menjelaskan, intensitas penggunaan gawai yang tinggi juga berdampak langsung pada kualitas hubungan dalam keluarga. Komunikasi yang semakin berkurang membuat kedekatan emosional antaranggota keluarga menjadi renggang.

Situasi ini, lanjutnya, tidak hanya berdampak pada perempuan, tetapi juga berimbas pada anak dan remaja. Minimnya interaksi hangat di rumah berpotensi memicu berbagai persoalan kesehatan mental pada generasi muda.

“Keluarga yang harusnya menjadi tempat nyaman dan aman, di masa sekarang justru berbalik menjadi sumber masalah,” ujarnya.

Lahargo menegaskan bahwa kesehatan mental perempuan memiliki peran krusial dalam menentukan pola asuh serta perkembangan psikologis anak. Jika kondisi mental ibu terganggu, maka dampaknya bisa meluas ke seluruh anggota keluarga.

Pandangan serupa disampaikan Ketua PCNU Kota Bogor, Edi Nurokhman. Ia menilai perempuan memegang peran strategis sebagai pendidik sekaligus pembina dalam keluarga, sehingga kesejahteraan mental mereka tidak boleh diabaikan.

“Karena mereka sehari-hari di rumah memiliki peran sebagai pembina dan pendidik untuk anak-anak di rumah dan keluarganya secara keseluruhan,” kata Edi dalam seminar yang digelar di Balai Kota Bogor bersama organisasi perempuan seperti Muslimat NU dan Fatayat NU.

Ia menambahkan, gangguan kesehatan mental yang tidak terdeteksi sejak dini berpotensi memicu berbagai persoalan serius dalam keluarga, mulai dari konflik rumah tangga hingga tindakan ekstrem.

Sebagai langkah antisipasi, pihaknya mendorong seluruh lembaga di bawah naungan NU untuk melakukan pendataan serta pendampingan terhadap warga yang mengalami persoalan sosial maupun psikologis. Upaya ini diharapkan mampu memberikan akses bantuan yang lebih cepat dan tepat sasaran bagi masyarakat yang membutuhkan.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : Antara

Abdul Hamied Razak

Abdul Hamied Razak Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online

Read Entire Article
Ekonomi | Asset | Lokal | Tech|