
Peserta Touring JNE-FJ2 2026 melakukan bakti sosial ke Panti Asuhan Almarina di Karangmojo, Gunungkidul, Jumat (15/5/2026). Ist
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL —Kegiatan touring sepeda motor bertajuk “Bergerak Bersama” kembali digelar oleh JNE Yogyakarta bersama Forum Jurnalis Jogja (FJ2), Jumat (15/5/2026). Kegiatan ini tidak hanya menjadi ajang touring, tetapi juga membawa misi sosial, edukasi, dan dukungan terhadap UMKM lokal.
Tahun ini, rombongan menyusuri rute wisata dan perbukitan Gunungkidul, setelah sebelumnya digelar di Kulon Progo pada tahun lalu.
Rombongan dilepas langsung oleh Kepala JNE Cabang Yogyakarta, Adi Subagyo, dari kantor JNE di Sorogenen, Umbulharjo. Ia menegaskan bahwa kegiatan ini bukan sekadar perjalanan komunitas, tetapi juga sarana berbagi manfaat bagi masyarakat.
“Peran media dan JNE diharapkan bisa mendukung UMKM agar semakin berkembang,” ujarnya di sela kegiatan.
Rute Wisata dan Edukasi
Perjalanan touring melintasi sejumlah destinasi ikonik di Yogyakarta bagian timur, seperti Tebing Breksi, Candi Ijo, Obelix Hills hingga Gunung Api Purba Nglanggeran.
Setelah itu, rombongan melanjutkan kunjungan sosial ke Panti Asuhan Almarina di Karangmojo, Gunungkidul.
Bakti Sosial di Panti Asuhan
Di lokasi tersebut, JNE menyerahkan bantuan berupa santunan, Al-Qur’an, dan paket bingkisan bagi penghuni panti.
Panti Asuhan Almarina sendiri saat ini menampung sekitar 69 warga binaan, termasuk anak-anak, lansia, hingga penyandang disabilitas.
Pihak panti menyebut lembaga ini menjadi tempat terakhir bagi warga yang tidak memiliki akses tempat tinggal lain, dengan dukungan berbagai pihak sosial.
Dukung UMKM Kopi
Perjalanan dilanjutkan ke Katamata & Roastery di Wonosari, sebuah kedai kopi lokal yang turut berkembang berkat dukungan logistik JNE.
Pemiliknya, Edi Dwi Atmaja, mengungkapkan bahwa usaha kopi tersebut berkembang dari angkringan pada 2015 hingga menjadi roastery kopi lokal pertama di Gunungkidul.
“Kami awalnya sulit mendapatkan kopi berkualitas, lalu akhirnya membangun roastery sendiri,” katanya.
Kini, produk kopi Gunungkidul sudah dikirim ke berbagai daerah di Jawa, bahkan rutin dikirim 2–3 kali per minggu.
Potensi Kopi Gunungkidul
Edi juga menilai kopi Gunungkidul memiliki karakter khas, yakni lebih pahit karena kondisi tanah karst dan keterbatasan air.
Meski demikian, justru keunikan itu menjadi daya tarik tersendiri yang terus ia kembangkan bersama petani lokal.
Ia bahkan telah membantu pengembangan ribuan pohon kopi di berbagai wilayah Gunungkidul, termasuk Gunung Gambar.
Kegiatan touring ini tidak hanya menjadi perjalanan komunitas, tetapi juga bentuk nyata kolaborasi antara media, pelaku usaha, dan masyarakat dalam menggerakkan ekonomi lokal serta aksi sosial di Gunungkidul.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Abdul Hamied Razak Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online

















































