Ilustrasi santriwati.
REPUBLIKA.CO.ID, CIREBON -- Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) mendorong implementasi pendidikan kesehatan reproduksi di lingkungan pesantren sebagai bagian dari upaya mencegah kekerasan seksual terhadap santri sekaligus meningkatkan kualitas kesehatan generasi muda.
Komitmen tersebut disampaikan dalam Halaqah Implementasi Pendidikan Kesehatan Reproduksi Santri yang diselenggarakan Gerakan Maslahat Keluarga Nahdlatul Ulama (GKMNU) di Pondok Pesantren KHAS Kempek, Cirebon, Jawa Barat, Senin (20/7/2026). Kegiatan itu diikuti para pengasuh pesantren dari Jawa Barat dan Jawa Tengah.
Ketua PBNU Bidang Kesejahteraan Masyarakat Alissa Qatrunnada Wahid mengatakan meningkatnya kasus kekerasan, termasuk kekerasan seksual di lingkungan pesantren, menjadi salah satu alasan utama pentingnya penguatan pendidikan kesehatan reproduksi bagi santri.
"Kita ingin segera mengantisipasi dan mempersiapkan ekosistem pesantren agar pemahaman terkait kesehatan reproduksinya lebih baik sehingga kita bisa menanggulangi persoalan kekerasan seksual yang ada di pesantren," ujar Alissa dalam siaran pers, Selasa (21/7/2026).
Menurut dia, upaya pencegahan kekerasan seksual tidak cukup hanya melalui penegakan aturan. Pendidikan yang membangun pemahaman sejak dini mengenai kesehatan reproduksi juga menjadi bagian penting dalam menciptakan lingkungan pesantren yang aman.
Alissa menilai selama ini masih banyak masyarakat yang memiliki persepsi keliru mengenai kesehatan reproduksi. Istilah tersebut kerap dipahami hanya berkaitan dengan perilaku seksual, padahal cakupannya jauh lebih luas.

1 week ago
32















































