Bukan Kamu yang Kecanduan, Memang Sistemnya yang Dirancang Begitu

8 hours ago 3

Image Andini Azaria Zahra

Teknologi | 2026-07-02 13:25:54

Seorang pria tampak pusing melihat ponsel akibat sistem aplikasi yang terlalu banyak mengirimkan notifikasi. Foto: Pexels/Askar Abayev

Belum genap jam delapan pagi, tapi layar ponsel sudah penuh. Tiga puluh pesan di grup kelas, pengumuman tugas dari dosen, hingga notifikasi media sosial yang tak pernah benar-benar berhenti. Hari belum dimulai, tapi perhatian sudah terkuras ke mana-mana. Rasanya familiar, bukan?

Menariknya, ini bukan sekadar soal kita yang "kecanduan ponsel". Ada yang lebih dalam dari itu.

Dalam bidang Human-Computer Interaction (HCI), teknologi sejatinya dirancang untuk membantu manusia mencapai tujuannya, bukan sebaliknya. Tapi ketika aplikasi berlomba-lomba merebut perhatian kita setiap menit, batas itu mulai kabur. Teknologi yang hadir untuk memudahkan hidup, pelan-pelan justru meminta kita untuk terus siaga—dan kita, tanpa sadar, menurut saja.

Jebakan Information Overload dan Desain Persuasif

Sebenarnya, tidak semua notifikasi yang masuk itu penting. Sebagian besar hanya berisi informasi yang bisa dibaca beberapa jam kemudian tanpa konsekuensi apa pun.

Tapi cara semua notifikasi itu muncul terasa sama mendesaknya: layar menyala, ponsel bergetar, angka merah muncul di sudut aplikasi. Otak kita tidak dibekali kemampuan untuk langsung memilah mana yang benar-benar perlu direspons seketika. Akibatnya, semua sinyal terasa sama daruratnya, dan kita merespons semuanya.

Dalam kajian Sistem Informasi, kondisi ini dikenal sebagai information overload—ketika jumlah informasi yang diterima melampaui kemampuan seseorang untuk memprosesnya secara efektif.

Yang membuat situasi ini pelik adalah kondisi tersebut tidak terjadi begitu saja. Banyak aplikasi modern memang sengaja dirancang agar pengguna terus kembali, dan notifikasi adalah salah satu alat utamanya.

Ini yang dalam dunia desain teknologi disebut persuasive design. Yaitu merancang pengalaman digital sedemikian rupa sehingga perhatian pengguna menjadi komoditas yang terus dipanen.

Ketika Sistem Berubah Menjadi Pengeras Suara

Sebagai mahasiswa Sistem Informasi, saya melihat masalah ini bukan hanya soal banyaknya notifikasi, melainkan soal bagaimana informasi dikelola. Dalam perancangan sistem, tujuan utama teknologi seharusnya membantu pengguna mendapatkan informasi yang relevan tanpa harus dibebani oleh hal-hal yang tidak penting.

Dengan kata lain, sistem yang baik berfungsi sebagai penyaring, bukan pengeras suara yang terus-menerus berteriak meminta perhatian.

Sayangnya, prinsip itu sering bergeser. Alih-alih membantu pengguna fokus, banyak platform justru mengirimkan sebanyak mungkin notifikasi demi meningkatkan interaksi (engagement). Perhatian manusia diperlakukan seperti sumber daya yang bisa diperebutkan.

Semakin lama kita bertahan di dalam aplikasi, semakin besar nilai bisnis yang diperoleh platform. Dan yang paling mengkhawatirkan bukan seberapa sering kita membuka ponsel, melainkan fakta bahwa kita sudah hampir tidak menyadarinya lagi.

Mendesak Hadirnya Humane Technology

Kalau masalahnya berasal dari cara sistem dirancang, maka percakapan soal solusinya pun seharusnya dimulai dari sana. Bukan hanya dari sisi pengguna yang terus-menerus diminta lebih bijak menggunakan ponsel.

Ada konsep yang belakangan mulai banyak dibicarakan di dunia teknologi: humane technology (teknologi yang manusiawi). Intinya sederhana, sistem seharusnya dirancang untuk menghormati perhatian pengguna, bukan merebutnya secara agresif.

Dalam praktik yang paling dasar sekalipun, ini bisa berarti: notifikasi diprioritaskan berdasarkan urgensi, serta informasi yang tidak mendesak dirangkum dan dikirim di satu waktu tertentu, bukan diteteskan sepanjang hari. Kita tidak butuh teknologi yang lebih canggih, melainkan teknologi yang lebih jujur soal apa yang sebenarnya ia lakukan pada perhatian kita.

Saya tidak sedang bilang ponsel adalah musuh. Tapi sebagai seseorang yang sedang belajar merancang sistem, saya mulai sadar bahwa setiap keputusan desain—sekecil apa pun—punya konsekuensi nyata bagi psikologis orang yang menggunakannya.

Berhasil tidaknya sebuah sistem bukan lagi soal seberapa banyak pengguna yang membukanya tiap menit, melainkan seberapa baik sistem itu membantu mereka menjalani hari dengan tenang. Dan mungkin, itu adalah standar baru yang sudah lama seharusnya kita terapkan.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Read Entire Article
Ekonomi | Asset | Lokal | Tech|