REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA, – Kepala Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH) Ahmad Haikal Hasan menegaskan bahwa persepsi tentang halal telah mengalami transformasi besar. Kini, halal tidak lagi dipandang semata sebagai isu agama, melainkan telah menjadi simbol kesehatan, kebersihan, dan kualitas yang diterima secara universal.
Pernyataan tersebut disampaikan Haikal saat menghadiri perayaan Matariki atau Tahun Baru Māori yang diselenggarakan oleh Kedutaan Besar Selandia Baru di Jakarta, Selasa. Selandia Baru sendiri telah menandatangani nota kesepahaman (MoU) tentang skema saling pengakuan dengan lembaga yang dipimpinnya pada tahun lalu.
"Halal sekarang bukan lagi berbicara soal agama. Halal adalah simbol kesehatan. Halal bukan hanya untuk Muslim, halal adalah untuk semua karena halal merupakan simbol kesehatan, simbol kebersihan, dan simbol kualitas," kata Haikal.
Transformasi Definisi Halal
Haikal mengungkapkan bahwa cara pandang tersebut merupakan transformasi definisi halal yang juga ia pelajari dari Presiden Prabowo Subianto. Menurut dia, konsep halal kini berkembang menjadi bagian dari gaya hidup dan tidak lagi hanya dikaitkan dengan kebutuhan umat Islam.
Ia mencontohkan, saat berkunjung ke Amerika Serikat, kalangan Departemen Pertanian Amerika Serikat (USDA) menyebut halal sebagai simbol kesehatan. Sementara di Korea Selatan, salah satu perusahaan farmasi menyebut halal sebagai kebersihan ganda.
Sedangkan bagi Australia, sebut Haikal, halal dimaknai sebagai kepuasan pelanggan. Di Eropa, produk halal dilihat sebagai pangan berkualitas tinggi (elite food) karena diproses dengan standar kebersihan yang lebih tinggi. Lalu, China memandang halal sebagai penggerak ekonomi (economic engine).
"China kini menjadi negara produsen produk halal nomor satu di dunia," ujar Haikal seraya menambahkan bahwa China memproduksi produk halal senilai lebih dari 21 miliar dolar AS setiap tahun.
Indonesia Pasar Besar, Bukan Produsen Terbesar
Haikal menyoroti fakta bahwa Indonesia merupakan negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia, namun bukan produsen produk halal terbesar. Ia menyebut produsen halal terbesar adalah China, disusul Brasil dan Amerika Serikat, sehingga menurutnya halal kini telah menjadi milik semua orang.
"Mulai hari ini, terimalah bahwa halal adalah bagian dari kemakmuran hidup dan merupakan bagian dari peradaban modern," katanya.
Ia menambahkan, di Indonesia pengembangan halal mengedepankan tiga prinsip, yakni transparansi, ketertelusuran, dan kepercayaan.
"Seiring kita melangkah ke masa depan, marilah kita merayakan kemitraan yang telah terjalin dan terus memperkuat Kemitraan Komprehensif antara Indonesia dan Selandia Baru," kata Haikal menambahkan.
Konten ini diolah dengan bantuan AI.
sumber : antara

1 hour ago
3

















































