REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA— Tidak diragukan lagi bahwa menjadi kaya merupakan salah satu cita-cita yang diimpikan banyak orang di setiap zaman dan di berbagai tempat.
Namun, tujuan di balik keinginan menjadi kaya itu berbeda-beda, sesuai dengan karakter dan niat masing-masing.
Ada orang yang menginginkan harta, emas, dan perak semata-mata untuk menikmati kenikmatan dunia, memenuhi hawa nafsu, berbuat kerusakan, atau membanggakan diri di hadapan orang lain.
Ada pula yang mencari harta agar tidak bergantung kepada orang lain dan dapat memenuhi kebutuhan hidupnya secara layak.
Sementara itu, ada juga orang yang bercita-cita menjadi kaya agar dapat menginfakkan hartanya di jalan Allah, melayani kepentingan Islam dan kaum Muslimin, serta berkontribusi dalam berbagai bentuk kebaikan.
Karena itu, banyak orang membayangkan seandainya mereka termasuk dalam daftar orang-orang terkaya di dunia, sehingga dapat membelanjakan hartanya sesuai dengan tujuan dan niat yang mereka miliki.
Dalam hal ini, ada dua hal penting yang patut direnungkan yaitu pertama sesungguhnya kita telah menjadi orang kaya.
Hakikatnya, kita semua telah termasuk dalam golongan orang-orang yang kaya, meskipun kadar kekayaan setiap orang berbeda sesuai dengan rezeki yang Allah karuniakan kepadanya.
Sebab, setiap dari kita memiliki begitu banyak nikmat yang nilainya tidak dapat dibandingkan dengan seluruh harta dan kekayaan di muka bumi.
Adakah harta yang dapat menyamai nikmat pendengaran, penglihatan, kesehatan, rasa aman, dan keselamatan?
Segala puji bagi Allah Yang Maha Pemurah, yang telah melimpahkan kepada kita nikmat-nikmat yang begitu berharga dan tak ternilai. Nikmat-nikmat itu tidak dapat ditukar dengan apa pun.

4 hours ago
2









































