
Wakil Wali Kota Surakarta Astrid Widayani saat menjadi narasumber Solo Literacy Festival (SLF) 2026 dalam sesi Ruang Cerita, Jumat (18/9/2026) sore.
Harianjogja.com, SOLO— Wakil Wali Kota Surakarta Astrid Widayani ingin Solo tidak berhenti sebagai kota tujuan wisata. Kekayaan sejarah, budaya, museum, kampus, hingga ruang publik dinilai dapat dikembangkan sebagai sumber pembelajaran bagi masyarakat dan wisatawan.
Gagasan tersebut disampaikan Astrid saat menjadi narasumber Solo Literacy Festival (SLF) 2026 dalam sesi Ruang Cerita, Jumat (18/9/2026) sore. Dalam diskusi bertema “Jejak Aksara Membangun Peradaban Kota” di Ndalem Djojokoesoeman, Astrid berdiskusi bersama filolog Rendra Agusta.
Menurut Astrid, literasi memiliki cakupan yang jauh lebih luas dibandingkan aktivitas membaca buku atau mengenal aksara. Ruang, sejarah, budaya, dan perjalanan waktu juga dapat menjadi sumber pengetahuan.
“Literasi tidak hanya berkaitan dengan buku, huruf, atau kata-kata saja. Tetapi bagaimana satu ruang, satu sejarah, dan dimensi waktu juga menjadi bagian dari bagaimana kita memperkaya literasi,” ujar Astrid.
Ia menilai kekayaan sejarah dan budaya Solo merupakan modal penting untuk membangun ekosistem literasi yang dekat dengan kehidupan masyarakat. Kemajuan kota dan perkembangan teknologi, menurutnya, perlu tetap berjalan bersama dengan penguatan identitas budaya.
“Seberapa maju pun kota atau seberapa cepat teknologi berubah, identitas jati diri bangsa tidak pernah hilang dan tidak pernah runtuh,” tegasnya.
Ruang Publik Jadi Tempat Belajar
Astrid mengatakan penguatan budaya literasi tidak cukup jika hanya bertumpu pada sekolah dan perpustakaan. Ruang publik juga dapat menjadi tempat masyarakat memperoleh pengetahuan.
Pemkot Surakarta, kata dia, terus mendorong kegiatan literasi hadir di berbagai lokasi. Salah satunya melalui perpustakaan keliling yang secara rutin hadir di kawasan Car Free Day dengan membawa koleksi buku untuk masyarakat.
Aktivitas literasi juga dapat dikembangkan di pusat perbelanjaan, hotel maupun fasilitas publik lainnya.
“Tidak hanya di perpustakaan atau di sekolah. Di manapun ada tempat, kita bisa belajar,” katanya.
Konsep tersebut kemudian diarahkan untuk membangun Solo sebagai “center of knowledge” atau pusat pengetahuan. Keberadaan museum, perguruan tinggi, ruang budaya, hingga destinasi edukatif menjadi bagian dari modal tersebut.
“Solo ini juga ingin kami dorong sebagai kota yang menjadi pusat referensi atau Solo the center of knowledge. Dengan banyaknya museum dan kampus, bagaimana budaya bisa menjadi bagian dari nilai atau aktivitas kehidupan sehari-hari untuk dijadikan sumber pembelajaran,” jelas Astrid.
Dengan pendekatan itu, pengalaman wisata di Solo diharapkan tidak hanya berupa kunjungan ke sebuah destinasi. Wisatawan juga dapat membawa pulang pengetahuan mengenai sejarah dan budaya kota.
“Sehingga semua datang ke Solo itu tidak hanya untuk wisata, tetapi juga untuk belajar,” imbuhnya.
Literasi Dimulai dari Keluarga
Astrid juga mendorong keluarga menjadi lingkungan pertama dalam membangun kebiasaan literasi. Membaca, berdiskusi, mengenal sejarah, hingga mengunjungi tempat edukatif dapat dilakukan bersama sejak dari rumah.
Sejumlah fasilitas di Solo dinilai bisa menjadi ruang belajar alternatif, mulai dari Solo Safari, Solo Technopark, museum, hingga berbagai ruang budaya.
“Mulai dari rumah, tidak hanya di sekolah. Kemudian kita juga gunakan fasilitas dari pemerintah. Ada destinasi yang sifatnya edukatif, seperti Solo Safari, Solo Technopark, dan museum. Ini juga bisa digunakan sebagai sarana untuk penguatan literasi,” pungkasnya.
Solo Literacy Festival 2026 berlangsung pada 17–19 September. Festival tersebut mempertemukan komunitas kreatif, pegiat literasi, dan pelaku UMKM lokal melalui diskusi, pelatihan menulis, serta berbagai kegiatan untuk memperluas wawasan masyarakat dan generasi muda.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
















































