Jakarta, CNBC Indonesia - Biaya operasi militer Amerika Serikat terhadap Iran dalam sepekan pertama perang melonjak tajam hingga sekitar US$6 miliar atau lebih dari Rp101 triliun. Angka ini diungkap pejabat Pentagon kepada anggota Kongres, di tengah meningkatnya kekhawatiran mengenai keberlanjutan pendanaan perang dan dampaknya terhadap stok persenjataan AS.
Menurut laporan New York Times yang mengutip pejabat pertahanan AS, sekitar US$4 miliar dari total biaya tersebut dihabiskan hanya untuk amunisi serta sistem pencegat rudal canggih yang digunakan untuk menangkis serangan balasan Iran.
Pengungkapan angka tersebut terjadi dalam pembahasan di Kongres pekan ini. Dalam kesempatan itu, pejabat senior pertahanan juga mengisyaratkan bahwa pemerintah kemungkinan akan membutuhkan tambahan dana guna mempertahankan operasi militer sekaligus mengisi kembali persediaan senjata yang mulai menipis.
Dalam laporan yang sama, disebutkan bahwa sekitar 4.000 target militer Iran telah dihantam sejak operasi dimulai. Target tersebut mencakup peluncur rudal, kapal angkatan laut, hingga sistem pertahanan udara, yang disebut telah secara signifikan melemahkan kemampuan Teheran untuk melakukan serangan balasan.
Komandan Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) Laksamana Brad Cooper mengatakan serangan yang dilakukan Washington dan sekutunya berdampak besar terhadap kemampuan militer Iran.
Ia menyebut peluncuran rudal balistik Iran telah turun drastis sejak hari pertama pertempuran.
"Peluncuran rudal balistik Iran telah menurun 90% sejak hari pertama pertempuran," kata Cooper, dikutip dari Anadolu Agency, Senin (9/3/2026).
Ia juga menambahkan bahwa serangan drone Iran menurun tajam, dengan tingkat penurunan mencapai 83%.
Meski demikian, Pentagon mengingatkan bahwa Iran masih memiliki kekuatan militer yang signifikan. Negara itu diperkirakan masih mempertahankan sekitar 50% dari program rudalnya.
Lonjakan biaya perang yang sangat cepat kini menjadi perhatian serius di Washington. Para anggota parlemen diperkirakan akan segera menerima permintaan tambahan anggaran dari pemerintahan dalam beberapa pekan ke depan.
Pengeluaran militer yang besar ini memicu sorotan dari berbagai pihak di Kongres, baik dari kubu Partai Demokrat maupun Republik.
Sejumlah kritikus menilai penggunaan sistem pencegat rudal yang sangat mahal, beberapa di antaranya bernilai jutaan dolar per unit, berpotensi membebani industri pertahanan AS. Selain itu, konsumsi senjata yang sangat cepat dikhawatirkan dapat menimbulkan kekurangan persenjataan di wilayah strategis lainnya.
Perang ini bermula dari serangan gabungan AS dan Israel terhadap target militer Iran. Namun konflik kemudian meluas ke berbagai wilayah di Timur Tengah setelah Iran melancarkan serangan balasan berupa rentetan rudal balistik dan drone.
Serangan balasan tersebut menargetkan pangkalan militer, fasilitas diplomatik, serta personel militer AS di berbagai negara kawasan. Beberapa kota di Israel juga menjadi sasaran serangan Iran, sehingga memaksa AS dan sekutunya menggunakan sistem pertahanan udara mahal untuk mencegat proyektil yang masuk.
(luc/luc)
Addsource on Google
















































