Dua anak harimau benggala jantan, Huru dan Hara tengah dijemur untuk mendapatkan asupan sinar matahari di Bandung Zoo atau kebun binatang Bandung, Senin (22/9/2025).
REPUBLIKA.CO.ID, BANDUNG — Pemerintah Kota Bandung menggandeng lembaga konservasi internasional untuk memeriksa kesehatan satwa di Bandung Zoo. Langkah ini dilakukan setelah kematian dua anak Harimau Benggala akibat virus panleukopenia.
Pemeriksaan dilakukan bersama tim veteriner dan lembaga konservasi Vantara India pada 10–11 April 2026, sekaligus mengevaluasi standar kesejahteraan satwa.
Pemeriksaan mencakup pendataan inventaris satwa, screening kesehatan, rapid test penyakit, vaksinasi, hingga uji parasit melalui sampel feses. Evaluasi juga dilakukan terhadap fasilitas dan sistem pengelolaan satwa dengan mengacu pada standar Southeast Asian Zoos and Aquariums Association (SEAZA) dan organisasi global Wild Welfare.
Wali Kota Bandung Muhammad Farhan mengatakan, keterlibatan mitra internasional memberi perspektif baru dalam evaluasi pengelolaan kebun binatang. “Pemerintah Kota Bandung memfasilitasi kegiatan ini sebagai bagian dari komitmen kami untuk memastikan satwa di Bandung Zoo mendapatkan perhatian dan penanganan kesehatan yang baik,” kata Farhan, Jumat (10/4/2026).
Ia menyebut hasil evaluasi akan menjadi dasar pembenahan pengelolaan kebun binatang, terutama dalam aspek kesehatan dan kesejahteraan satwa. Langkah ini juga diharapkan dapat memulihkan kepercayaan publik terhadap pengelolaan Bandung Zoo.
Dewan Pengawas Perhimpunan Kebun Binatang Se-Indonesia (PKBSI) Danny Gunalen menilai kolaborasi dengan mitra internasional menjadi langkah penting untuk meningkatkan standar pengelolaan kebun binatang. Ia mengatakan keterlibatan Vantara membuka peluang penerapan praktik terbaik dalam konservasi dan kesehatan satwa.
Hasil pemeriksaan akan dituangkan dalam laporan komprehensif yang mencakup temuan medis, analisis kondisi satwa, serta rekomendasi teknis. Laporan ini menjadi acuan untuk perbaikan sistem pengelolaan ke depan.
Vantara India memiliki rekam jejak kolaborasi internasional di bidang konservasi, termasuk dengan pemerintah Indonesia dalam penanganan kesehatan satwa liar. Salah satunya dalam upaya pencegahan kematian gajah Sumatera akibat infeksi Elephant Endotheliotropic Herpes Virus (EEHV).

4 hours ago
2















































