Ubah Sampah Jadi Listrik, Teknologi Apa yang Dipakai di Indonesia?

7 hours ago 1

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Pemerintah tengah mempercepat pembangunan proyek pengolahan sampah menjadi energi listrik (waste-to-energy/WtE) di berbagai kota. Langkah ini ditempuh untuk menekan beban tempat pembuangan akhir (TPA) sekaligus menjawab persoalan darurat sampah perkotaan.

Di tengah percepatan tersebut, sejumlah perusahaan teknologi lingkungan asal China mulai masuk dan melirik proyek di Indonesia. Di antaranya adalah Zhejiang Weiming Environment Protection dan Wangneng Environment, yang dikenal sebagai pemain besar dalam pengembangan pembangkit listrik berbasis sampah di negaranya.

Kedua perusahaan ini mengandalkan teknologi utama berupa incineration, yakni pembakaran sampah pada suhu tinggi sekitar 850 hingga 1.000 derajat Celsius. Panas dari proses ini digunakan untuk menghasilkan uap yang kemudian memutar turbin dan menghasilkan listrik.

Dalam praktiknya, satu fasilitas WtE umumnya mampu mengolah 500 hingga 3.000 ton sampah per hari, dengan kapasitas listrik sekitar 10 hingga 60 megawatt (MW). Teknologi ini juga dapat mengurangi volume sampah hingga sekitar 80 hingga 90 persen.

Zhejiang Weiming Environment Protection merupakan perusahaan yang fokus pada pengolahan sampah kota, pembangkit listrik berbasis sampah, pengolahan limbah cair dan lumpur (sludge), serta manufaktur peralatan lingkungan seperti incinerator dan sistem pengendalian gas buang. Perusahaan ini tidak hanya berperan sebagai kontraktor, tetapi juga sebagai investor dan operator proyek. Weiming menjalankan model bisnis terintegrasi mulai dari pembangunan fasilitas, pengoperasian pembangkit, hingga penjualan listrik.

Di pasar domestik China, Weiming tergolong pemain besar dengan lebih dari 50 fasilitas WtE yang telah dibangun. Nilai kapitalisasi pasarnya juga mencapai sekitar 7 miliar dolar AS. Pengalaman ini yang membuat perusahaan tersebut dilibatkan dalam sejumlah proyek PSEL, termasuk yang direncanakan di Indonesia seperti Bogor dan Denpasar.

Sementara itu, Wangneng Environment memiliki cakupan bisnis yang lebih luas. Selain pengolahan sampah kota dan pembangkit listrik berbasis sampah, Wangneng juga mengembangkan pengolahan limbah dapur (food waste), lumpur, serta air limbah, termasuk aktivitas daur ulang dan pemulihan sumber daya (resource recovery).

Perusahaan ini telah mengembangkan puluhan fasilitas pembangkit listrik berbasis incineration di berbagai provinsi di China. Wangneng juga memiliki ekspansi internasional melalui anak usaha di sejumlah negara seperti Thailand, Kamboja, Australia, dan Singapura. Model bisnis yang dijalankan serupa, yakni mencakup investasi, pembangunan, dan pengoperasian proyek lingkungan secara terintegrasi.

Pendekatan yang dibawa kedua perusahaan ini cenderung berorientasi pada penyelesaian cepat persoalan sampah. Sampah yang masuk umumnya tidak melalui proses pemilahan yang ketat, melainkan dibakar dalam kondisi campuran. Model ini memungkinkan pengolahan dalam skala besar tanpa membutuhkan sistem pengelolaan sampah yang kompleks di hulu.

Di sisi lain, pendekatan berbeda ditunjukkan oleh dua negara di Eropa, Vantaa Energy di Finlandia dan Amager Bakke di Copenhagen, Denmark. Meski tetap menggunakan incineration, perusahaan ini mengembangkan sistem yang jauh lebih terintegrasi dalam kerangka ekonomi sirkular.

CEO Vantaa Energi Jukka Toivonen menyebutkan bahwa pembakaran sampah hanya dilakukan pada residu yang tidak bisa didaur ulang. “Masyarakat kita menghasilkan limbah berbasis fosil yang tidak dapat didaur ulang. Cara paling aman, beremisi rendah, dan paling efisien dalam memanfaatkan sumber daya untuk mengelolanya adalah dengan menggunakannya sebagai sumber energi untuk pemanas distrik dan listrik,” ujarnya.

Berbeda dengan model China yang fokus pada listrik, Vantaa Energy memaksimalkan pemanfaatan panas melalui sistem district heating, yakni jaringan distribusi panas untuk kebutuhan rumah tangga.

Di kota Vantaa, lebih dari 90 persen bangunan terhubung dengan sistem ini. Artinya, panas dari pembakaran sampah tidak terbuang, melainkan dimanfaatkan langsung untuk pemanas ruangan dan air.

Pendekatan ini membuat efisiensi energi jauh lebih tinggi. Jika pembangkit listrik berbasis incineration konvensional hanya memiliki efisiensi sekitar 20 persen hingga 30 persen, maka sistem combined heat and power seperti di Finlandia bisa mencapai lebih dari 80 persen.

Tidak hanya itu, Vantaa Energy juga menargetkan penghentian penggunaan bahan bakar fosil pada 2026. Perusahaan tersebut tengah mengembangkan teknologi Carbon Capture and Storage untuk menangkap emisi karbon dari proses pembakaran. “Menghentikan penggunaan bahan bakar fosil merupakan tonggak penting dalam perjalanan keberlanjutan kami,” kata Toivonen.

Investasi yang disiapkan untuk transformasi ini mencapai sekitar 1 miliar euro dalam satu dekade. Dana tersebut mencakup pembangunan fasilitas pemilahan sampah, penyimpanan energi panas skala besar, serta proyek penangkapan karbon yang ditargetkan beroperasi sebelum 2035.

Selain Finlandia, pendekatan serupa juga diterapkan di Denmark, khususnya di Copenhagen melalui fasilitas Amager Bakke. Fasilitas ini mengolah sekitar 400.000 ton sampah per tahun dan menjadi salah satu pembangkit berbasis sampah paling modern di dunia.

Amager Bakke tidak hanya menghasilkan listrik untuk sekitar 30.000 rumah, tetapi juga menyuplai panas bagi sekitar 70.000 rumah melalui sistem district heating. Dengan konsep combined heat and power, pemanfaatan energi dari sampah menjadi jauh lebih optimal.

Yang menarik, fasilitas ini juga dirancang sebagai ruang publik. Atap bangunan dimanfaatkan sebagai area rekreasi seperti lintasan ski dan jalur hiking, menunjukkan integrasi antara infrastruktur energi dan ruang kota.

Seperti di Finlandia, sampah yang dibakar merupakan residu yang tidak dapat didaur ulang, sehingga pemilahan tetap menjadi bagian penting dari sistem. Standar pengendalian emisi juga sangat ketat, sejalan dengan regulasi lingkungan Uni Eropa.

Perbedaan pendekatan ini menunjukkan bahwa meski teknologi dasarnya sama, implementasinya dapat sangat berbeda. Model China menitikberatkan pada pengurangan volume sampah secara cepat dan produksi listrik, sementara model Eropa seperti Finlandia dan Denmark mengarah pada integrasi energi, efisiensi tinggi, serta penurunan emisi karbon.

Read Entire Article
Ekonomi | Asset | Lokal | Tech|