REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Pemanfaatan sampah menjadi energi listrik (waste-to-energy/WtE) telah lama diterapkan di sejumlah negara Asia sebagai solusi pengelolaan sampah sekaligus sumber energi. Jepang, Singapura, dan Korea Selatan menjadi contoh negara yang lebih dulu mengembangkan teknologi ini dengan pendekatan yang berbeda.
Di Jepang, WtE menjadi tulang punggung sistem pengelolaan sampah. Data Kementerian Lingkungan Jepang menunjukkan, negara ini memiliki sekitar 1.004 fasilitas incinerator dengan kapasitas pengolahan mencapai 174.598 ton per hari. Dari jumlah tersebut, sekitar 40 persen fasilitas telah dilengkapi pembangkit listrik dengan total kapasitas sekitar 2,23 gigawatt (GW).
Selain itu, studi global mencatat sekitar 79 persen sampah kota di Jepang diolah melalui incineration dan dimanfaatkan untuk energi. Pendekatan Jepang menekankan pada kapasitas besar dan stabilitas sistem. Keterbatasan lahan membuat landfill bukan pilihan utama, sehingga pembakaran menjadi solusi dominan untuk menekan volume sampah sekaligus menghasilkan energi.
Berbeda dengan Jepang, Singapura mengembangkan sistem yang lebih terintegrasi. Data dari National Environment Agency (NEA) menunjukkan total timbulan sampah mencapai 6,66 juta ton pada 2024, dengan sekitar separuhnya didaur ulang.
Sisa sampah yang tidak dapat didaur ulang diolah di fasilitas incineration sebelum residunya dikirim ke Semakau Landfill. Dokumen pemerintah Singapura juga mencatat negara ini memiliki empat fasilitas WtE utama yang mampu mengolah jutaan ton sampah setiap tahun.
Pendekatan Singapura menempatkan WtE sebagai bagian dari sistem utilitas nasional. Energi listrik yang dihasilkan disalurkan ke jaringan, sementara volume sampah berkurang drastis sebelum ditimbun.
Sementara itu, Korea Selatan mengembangkan model yang lebih beragam dalam kerangka ekonomi sirkular. Studi akademik mencatat setidaknya terdapat puluhan fasilitas incineration yang beroperasi dan menjadi bagian penting dalam sistem pengelolaan sampah nasional.
Selain itu, Korea Selatan dikenal memiliki tingkat daur ulang tinggi, mencapai sekitar 54 persen, salah satu yang tertinggi di dunia. Pendekatan negara ini tidak hanya mengandalkan pembakaran, tetapi juga mengolah limbah organik seperti food waste menjadi biogas serta memanfaatkan panas untuk sistem pemanas distrik (district heating).
Jika dibandingkan, ketiga negara tersebut menunjukkan bahwa keberhasilan WtE sangat ditentukan oleh sistem pendukungnya. Jepang menekankan kapasitas dan stabilitas, Singapura fokus pada integrasi sistem, sementara Korea Selatan mengarah pada ekonomi sirkular.
Di sisi lain, Indonesia saat ini masih berada pada tahap percepatan pembangunan infrastruktur WtE. Pemerintah menargetkan pembangunan fasilitas pengolahan sampah dan energi (PSEL) di puluhan kota besar untuk mengurangi beban TPA.
Pendekatan yang digunakan cenderung mengadopsi teknologi incineration seperti yang banyak diterapkan di China, yakni mampu mengolah sampah campuran dalam jumlah besar tanpa memerlukan sistem pemilahan yang kompleks di hulu.

7 hours ago
1















































