Tujuh Hari Pascagempa NTT, Korban Masih Terus Bertambah

7 hours ago 6

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA --- Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat jumlah korban akibat gempa bumi M 7,7 di Flores, Nusa Tenggara Timur, pada Sabtu (15/8/2026) masih terus bertambah hingga hari ketujuh pascagempa. Tak hanya korban jiwa, korban luka dan mengungsi juga masih mengalami penambahan. 

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton SP Panjaitan, mengatakan jumlah korban meninggal dunia akibat gempa bumi itu mencapai 83 orang hingga Jumat (21/8/2026) pukul 16.00 WIB. Jumlah itu bertambah sebanyak delapan jiwa dibandingkan data sebelumnya. 

"Dengan rincian bahwa yang meninggal adalah akibat dampak tidak langsung dari gempa di mana ada di di Kabupaten Manggarai ada dua, Kabupaten Manggarai Timur ada dua, Kabupaten Nagekeo ada tiga, dan Kabupaten Ngada ada satu," kata dia saat konferensi pers secara daring, Jumat sore.

Tak hanya itu, korban luka juga mengalami penambahan mencapai 79 orang dibandingkan data sebelumnya. Saat ini, total korban luka dilaporkan mencapai 986 jiwa orang.

Berton mengatakan, jumlah pengungsi akibat gempa bumi itu juga bertambah 18.050 jiwa pada hari ini. Artinya, saat ini terdapat total 110.785 jiwa yang masih mengungsi akibat gempa bumi tersebut. 

Ihwal data kerusakan, ia menyebutkan, saat ini total ada 44.946 unit rumah terdampak. Dari jumlah itu, sebanyak 17.176 unit rumah dilaporkan rusak berat, 9.758 unit rusak sedang, dan 18.013 unit rusak ringan.

"Posko di setiap kabupaten akan terus memutakhirkan data kerusakan dengan kategori tingkat kerusakannya. Rumah rusak berdasarkan tingkat kerusakannya akan ditetapkan berdasarkan by name by address atau berdasarkan nama dan alamat para warga yang terdampak akibat bencana," ujar Berton.

Gempa Susulan Masih Terjadi

Berton menambahkan, gempa susulan juga masih terus dirasakan mengguncang wilayah Flores hingga hari ketujuh setelah gempa utama. Berdasarkan data dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) hingga Jumat, sudah ada 4.258 kali gempa susulan yang terjadi, dengan kekuatan terbesar M 6,2 dan terkecil itu M 1,1 magnitude. 

"Sedangkan yang bisa dirasakan oleh warga, gempa susulan tersebut sebanyak 118 kali," kata dia.

Terpisah, Direktur Gempa Bumi dan Tsunami BMKG, Wijayanto, memprediksi rangkaian gempa susulan (aftershock) ini akan terus berlangsung selama 3-4 minggu ke depan. Ia menilai fase awal rangkaian gempa susulan masih memperlihatkan pola temporal yang kompleks dan belum sederhana.

Menurut dia, aktivitas gempa susulan pada beberapa hari pertama masih relatif tinggi dan belum menunjukkan pola peluruhan yang signifikan. "Jumlah gempa per 24 jam tercatat 704 kejadian pada hari pertama, meningkat menjadi 746 pada hari kedua, kemudian berkisar 668, 649, dan 627 kejadian pada hari ketiga hingga kelima, namun naik lagi menjadi 802 kejadian pada hari keenam," kata dia melalui keterangannya, Jumat.

Berdasarkan hasil monitoring BMKG, rangkaian gempa susulan ini menyebabkan beberapa guncangan signifikan berintensitas IV-VI MMI yang dirasakan kuat oleh warga setempat. BMKG mencatat peristiwa guncangan kuat terjadi pada 19 Agustus 2026 pukul 23.17 WIB berkekuatan M 5,6, serta 20 Agustus 2026 pukul 05.45 WIB berkekuatan M 5,8. Selanjutnya, gempa signifikan kembali mengguncang pada 20 Agustus 2026 pukul 09.47 WIB dengan kekuatan M 5,8, yang memicu kerusakan susulan pada struktur bangunan dan jembatan terdampak serta menimbulkan bencana tanah longsor di sejumlah titik.

Hasil relokasi menunjukkan bahwa gempa susulan tidak menyebar secara homogen, melainkan membentuk beberapa klaster tersendiri. Klaster utama berada di sekitar zona sumber gempa M 7,7 di utara Nagekeo dan membentang mengikuti arah Flores Back-arc Thrust. Sementara itu, klaster susulan lainnya muncul di bagian barat zona sumber utama, tepatnya di sebelah utara Kabupaten Manggarai.

Data seismisitas harian, pergerakan fokus aktivitas yang terus dinamis dari waktu ke waktu. Pada hari pertama hingga keempat pascagempa utama, gempa bumi menyebar merata di seluruh klaster dari timur ke barat. 

Namun, pada hari kelima dan keenam, aktivitas seismik bergeser dan memusatkan kekuatannya di klaster bagian barat. Sementara klaster bagian timur mulai menurunkan intensitas aktivitasnya secara bertahap.

Ia menyatakan, BMKG akan terus mengoperasikan sistem pemantauan real-time 24 jam. Petugas BMKG secara berkelanjutan menganalisis kuantitas kejadian, magnitudo, distribusi sumber gempa, arah pergerakan aktivitas, hingga karakteristik sumber gempa guna memberikan informasi yang akurat dan tepat waktu kepada masyarakat serta instansi terkait.

"Untuk memastikan keterbukaan informasi, BMKG mempublikasikan pembaruan data aktivitas gempa bumi susulan secara rutin dua kali sehari, yaitu setiap pukul 05.00 WIB dan 17.00 WIB," kata dia.

Read Entire Article
Ekonomi | Asset | Lokal | Tech|