REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Kemarau panjang yang diperparah fenomena El Nino berdampak pada debit air yang masuk ke Waduk Saguling di Kabupaten Bandung Barat (KBB), Jawa Barat. Meski begitu, produksi listrik dari bendungan yang dikelola PT PLN Indonesia Power (PLN IP) ini masih berjalan normal.
Manajer Sipil PLTA Saguling, Praja Mukti Ediatmaja, mengungkapkan debit air yang masuk ke Waduk Saguling turun cukup besar dibanding puncak musim penghujan. Saat musim hujan, debitnya bisa mencapai 155-200 meter kubik per detik. Namun selama Agustus 2026 hanya berkisar 10 hingga 18 meter kubik per detik.
"Debit air masuk berkisar antara 10-18 m3/detik untuk bulan Agustus, puncak musim penghujan bisa mencapai 155-200 m3/detik," kata Praja saat dikonfirmasi, Jumat (21/8/2026).
Meski turun drastis, kondisi tinggi muka air waduk saat ini masih berada dalam batas operasi normal. Pada kondisi kemarau, batas atas tinggi muka air Waduk Saguling berada di 640 meter di atas permukaan laut (mdpl), sementara batas bawahnya 636 mdpl. Posisi muka air saat ini masih berada di antara batas aman operasi pembangkit.
"Namun demikian kondisi Tinggi Muka Air Waduk Saguling saat ini masih di batas operasi normal yaitu 638 mdpl," ujar Praja.
Meski pasokan air berkurang, kondisi ini belum mengganggu operasional PLTA Saguling secara signifikan. Produksi listrik dari Saguling berfungsi mendukung beban puncak sistem Jawa-Bali sekaligus berperan sebagai pengatur frekuensi sistem lewat load frequency control (LFC).
Menurut Praja, pengoperasian pembangkit listrik di lingkungan PLN dilakukan berdasarkan sistem dispatch oleh PLN Pengatur Beban. Pengoperasian pembangkit mempertimbangkan merit order serta ketersediaan energi primer, termasuk air untuk PLTA, batu bara, gas, hingga uap panas bumi.
"Sehingga PLTA Saguling secara pola operasi musim kemarau masih dapat memenuhi dispatch dari PLN Pengatur Beban," ucapnya.
Menghadapi potensi kemarau panjang, PLN Indonesia Power tidak bekerja sendiri mengatur ketersediaan air Waduk Saguling. Pengelola PLTA Saguling berkoordinasi lewat Tim Koordinasi Pengoperasian Bendung Kaskade Citarum (TKPBKC), forum yang melibatkan BBWS Citarum sebagai koordinator, PLN Indonesia Power, PLN Nusantara Power, Perum Jasa Tirta (PJT) II, dan BMKG.
Praja mengatakan koordinasi dilakukan rutin setiap bulan untuk mengatur distribusi air dari Waduk Saguling hingga Jatiluhur.
"Forum TKPBKC ini rutin diadakan bulanan sehingga pembagian debit air keluar dari waduk Saguling sampai Jatiluhur selalu dikoordinasikan dan diatur agar dapat memenuhi kebutuhan pengairan, listrik, air minum dan lain-lain," jelasnya.
Lewat koordinasi tersebut, kondisi tinggi muka air terus disimulasikan untuk memastikan ketersediaan air mencukupi berbagai kebutuhan hingga musim kemarau berakhir. Sebagai salah satu langkah antisipasi kekeringan, Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) juga sudah dilakukan.
Praja menyebutkan pelaksanaan TMC tahap awal berlangsung pada 30 Juli hingga 5 Agustus 2026, menggunakan pesawat milik TNI dengan Lanud Husein Sastranegara sebagai pangkalan operasi. Namun hasilnya belum maksimal lantaran potensi pertumbuhan awan hujan pada periode itu relatif terbatas.
"TMC tahap awal sudah dilakukan pada periode 30 Juli sampai 5 Agustus 2026, menggunakan pesawat TNI dan menggunakan Lanud Husein sebagai base operasi. Karena potensi awan yang terjadi pada periode tersebut juga tidak banyak sehingga hujan yang terjadi juga tidak optimal," ungkapnya.
Sementara itu, munculnya daratan akibat surutnya air Waduk Saguling dimanfaatkan sejumlah warga untuk membuka lahan pertanian sementara. PLN Indonesia Power UBP Saguling pun mengimbau masyarakat agar tidak memanfaatkan area waduk yang mengering untuk kegiatan pertanian.
Praja menjelaskan, penggunaan area kering maupun kawasan bersedimentasi sebagai lahan pertanian berpotensi memperparah pendangkalan waduk.
"Tentu saja penggunaan area kering/sedimentasi sebagai lahan pertanian dapat menimbulkan pendangkalan sehingga PLN IP mengimbau agar warga tidak melakukan penanaman tanaman musiman di daerah tersebut," kata Praja.

7 hours ago
5
















































