Trump Klaim Iran Mulai Retak dari Dalam, Ini Faktanya

5 hours ago 1

Jakarta, CNBC Indonesia - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menilai rezim Iran berada dalam kondisi "sangat terpecah belah" saat ia memperpanjang gencatan senjata guna memberi waktu bagi Teheran menyusun proposal yang lebih "terpadu".

Gedung Putih bahkan menilai absennya Iran dalam putaran kedua pembicaraan di Pakistan bersama Wakil Presiden JD Vance sebagai bukti perpecahan tersebut.

Namun, sejumlah pengamat menilai klaim itu tidak mencerminkan kondisi sebenarnya. Iran tetap bersikukuh bahwa Amerika Serikat harus menghentikan blokade pelabuhan sebelum negosiasi dilanjutkan. Sikap ini dinilai sebagai indikasi konsistensi, bukan perpecahan.

"Saya pikir itu adalah salah tafsir serius terhadap kepemimpinan Iran," kata profesor pemerintahan Universitas Georgetown Qatar, Mehrat Kamrava, dikutip CNN International, Kamis (23/4/2026). "Kepemimpinan cukup kohesif, dan kita telah melihat ini dalam pelaksanaan perang dan negosiasi."

Situasi politik Iran memang menjadi lebih kompleks setelah Amerika Serikat dan Israel menyingkirkan sejumlah tokoh penting, termasuk pemimpin tertinggi Ayatollah Ali Khamenei. Kini, kepemimpinan dipegang oleh kelompok pejabat lintas faksi di bawah bayang-bayang konflik berkepanjangan dan ketidakpastian peran Mojtaba Khamenei sebagai penerus.

Meski berasal dari spektrum politik berbeda, para pejabat tersebut dinilai tetap berupaya menunjukkan persatuan, terutama dalam menghadapi tekanan eksternal dari Washington dan tekanan internal dari kelompok garis keras.

"Berbagai faksi kepemimpinan Iran sekarang lebih selaras daripada sebelum perang," ujar Wakil Presiden Eksekutif Quincy Institute, Trita Parsi. "Lingkaran yang lebih kecil ini justru membuat mereka lebih bersatu dalam strategi perang dibanding sebelumnya."

Di tengah spekulasi soal kehadiran Iran dalam pembicaraan, Teheran konsisten menolak berpartisipasi dengan alasan Washington melanggar gencatan senjata dan tidak serius dalam diplomasi. Iran juga tetap berpegang pada "garis merah" lama, seperti hak memperkaya uranium, pengembangan rudal, dan dukungan terhadap kelompok proksi.

Pemerintah Iran pun secara terbuka membantah isu perpecahan internal. Wakil Juru Bicara Presiden Iran Mehdi Tabatabai mengatakan "pembicaraan tentang perpecahan di antara pejabat senior adalah propaganda usang dari musuh-musuh Iran. Persatuan antara medan perang, publik, dan diplomat saat ini sangat luar biasa."

Sebagai simbol persatuan, Ketua Parlemen Mohammad Bagher Ghalibaf ditunjuk memimpin negosiasi dengan AS. Dalam pertemuan awal di Islamabad, ia bahkan didampingi tim yang merepresentasikan berbagai faksi politik, langkah yang dinilai sebagai sinyal kuat kohesi internal.

Meski demikian, perbedaan pandangan tetap ada. Parsi menegaskan bahwa kegagalan mencapai kesepakatan bukan disebabkan oleh perpecahan Iran, melainkan dinamika negosiasi yang kompleks.

Di sisi lain, komunikasi publik Trump justru dinilai sebagian pejabatnya sendiri memperumit proses negosiasi. Pernyataan terbuka presiden di media sosial disebut memperburuk ketidakpercayaan Iran terhadap AS.

(tfa/luc)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Ekonomi | Asset | Lokal | Tech|