REPUBLIKA.CO.ID, TEHERAN — Saling ancam para petinggi dalam peperangan antara Amerika Serikat (AS) dan Republik Islam Iran juga terjadi melalui media sosial (medsos). Presiden AS Donald Trump baru-baru ini kembali mengeluarkan ancaman serangan berkali-kali lipat ke Teheran jika pemerintahan Para Mullah itu tetap menutup akses keluar-masuk kapal-kapal minyak di Selat Hormuz. Kepala Dewan Nasional Tertinggi Iran, Ali Larijani menanggapi ancaman tersebut dengan balik mengancam.
Trump, melalui akun medsos resminya di Truths yang mulanya menyampaikan ancaman lanjutan terhadap Iran. Trump mengatakan Iran harus membuka Selat Hormuz, dan tak mengganggu lalu lintas minyak global.
"Jika Iran melakukan sesuatu untuk menghentikan aliran minyak di Selat Hormuz, mereka akan dihantam oleh Amerika Serikat dua puluh kali lebih keras daripada yang telah mereka alami sejauh ini,” begitu tulis Trump, pada Senin (9/3/2026) lalu.
Unggahan pernyataan Trump itu, ditampilkan ulang oleh Ali Larijani di laman akun medsos X miliknya, pada Selasa (10/3/2026). Masih dalam tulisan ancaman Trump itu, dia menyampaikan AS akan lebih menghancurkan Iran dengan menargetkan fasilitas-fasilitas penting sampai negara itu benar-benar tak lagi bisa bangkit.
“Selain itu kita akan menghancurkan target-target yang muda dihancurkan yang akan membuat Iran tidak mungkin untuk dibangun kembali sebagai sebuah negara, kematian, api, dan amarah akan menimpa mereka,” sambung Trump.
Namun kata Trump, hal tersebut bisa saja tak dilakukan AS jika Iran patuh dan taat atas ancaman tersebut. Kata Trump, pembukaan Selat Hormuz harus segera Iran karena kawasan Laut Persia itu merupakan wilayah vital untuk mobilitas bahan bakar minyak dari dan ke seluruh dunia.
Trump menyinggung China akan mendapatkan hadiah atas ancaman AS terhadap Iran terkait Selat Hormuz tersebut. “Ini (ancaman Iran agar membuka Selat Hormuz) adalah hadiah dari Amerika Serikat untuk Tiongkok, dan semua negara yang banyak bergantung pada Selat Hormuz,” ujar Trump.
Ali Larijani, sebagai Kepala Dewan Keamanan Nasional Tertinggi di Iran membalas ancaman tertulis Trump itu. Dia menegaskan, Iran tak bukan bangsa yang mempan dengan gertakan-gertakan maupun ancaman-ancaman.
Apalagi, ancaman itu hanya datang dari seorang Trump. Ali Larijani menjawab ancaman AS tersebut dengan menegaskan, Trump cuma melakukan ancaman yang tak berarti apapun bagi Iran. “Bangsa Ashura Iran, tidak takut dengan ancaman omong kosongmu,” tulis Larijani di akun medsosnya.
Dia menegaskan, jangankan Trump bersama AS dan sekutu-sekutunya, jika ada kelompok yang merasa lebih kuat sekalipun tak bakal membuat Iran takluk. “Bahkan mereka yang lebih hebat darimu sekalipun, tidak akan pernah mampu melenyapkan Bangsa Iran,” kata Larijani.
Alih-alih takut, Ali Larijani justeru mengingatkan Trump untuk selalu berhati-hati atas nasibnya. “Jaga dirimu, jangan sampai malah kau yang dilenyapkan,” tulis Larijani dalam dua bahasa Persia, dan Arab.
Agresi perang AS bersama penjajah Zionis Israel hingga Rabu (11/3/2026) sudah memasuki hari ke-11. AS-Zionis masih melancarkan serangan-serangan ke wilayah Iran dengan menargetkan beberapa fasilitas militer, dan titik-titik sumber daya Iran.
Tak jarang serangan misil-misil AS-Zionis mengenai fasilitas-fasilitas sipil, dan membunuh warga-warga biasa. Serangan-serangan AS-Zionis membuat sekitar seribuan sipil meninggal dunia, termasuk ratusan anak-anak sekolah dan ribuan lainnya mengalami luka-luka.
Iran masih dalam posisi bertahan, namun dengan membalas menembakkan misil-misil dan rudal dengan daya ledak besar ke wilayah penjajahan Zionis Israel di wilayah Palestina. Iran juga masih melawan dengan menembakkan rudal-rudal canggihnya ke pangkalan-pangkalan militer AS yang tersebar di negara-negara Teluk Arab yang dijadikan lokasi militer AS dalam menyerang Iran. Dalam posisi tersebut, sejak awal peperangan, Iran menggunakan taktik ekonominya, dengan menutup Selat Hormuz.
Selat Hormuz, merupakan celah di Laut Persia yang menjadi perlintasan kapal-kapal tanker pengangkut bahan bakar minyak dari Teluk Arab ke seluruh dunia. Selat Hormuz menyimpan lebih dari 20 persen akses minyak mentah global.
Militer Iran, Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) melarang kapal dari bendera manapun untuk melintas Selat Hormuz. Beberapa kapal tanker pengangkut minyak global menjadi target pengeboman oleh Iran, terutama kapal-kapal tanker yang menjadi aset-aset ekonomi afiliasi AS dan sekutu-sekutunya di Teluk Arab.
Baru-baru ini, Iran membolehkan kapal-kapal tanker berbendera negara-negara sahabatnya, seperti dari China, maupun Rusia dibolehkan untuk melintas. Dan baru-baru ini juga Iran mempersilakan kapal-kapal tanker berbendera negara-negara Arab untuk melintasi Selat Hormuz. Tetapi dengan syarat pemaksa, yaitu berupa pengusiran militer AS dari negara-negara Arab, dan pelarangan kembali pembangunan pangkalan-pangkalam militer AS di negara-negara Arab.

4 hours ago
3
















































