Jakarta, CNBC Indonesia - Di tengah meningkatnya ketegangan Selat Hormuz, Presiden Donald Trump melontarkan pernyataan kontroversial dengan membandingkan aksi militer Amerika Serikat di laut dengan praktik pembajakan, saat Washington dan Teheran saling menekan melalui blokade.
Dalam sebuah rapat umum di negara bagian Florida akhir pekan ini, Trump menggambarkan secara gamblang operasi Angkatan Laut AS yang menyita sebuah kapal di tengah kebijakan blokade terhadap Iran.
"Kami ... mendarat di atasnya dan kami mengambil alih kapal itu. Kami mengambil alih kargonya, mengambil alih minyaknya. Ini adalah bisnis yang sangat menguntungkan," ujar Trump di hadapan para pendukungnya, dilansir The Guardian.
Ia kemudian menambahkan dengan nada yang memancing sorakan massa, "Kami seperti bajak laut. Kami memang agak seperti bajak laut. Tapi kami tidak sedang bermain-main."
Pernyataan tersebut muncul di tengah meningkatnya perhatian terhadap aspek hukum dari konflik maritim antara kedua negara. Para pakar hukum internasional mulai mengangkat kekhawatiran terkait tindakan Iran yang memblokade Selat Hormuz, jalur vital bagi distribusi minyak dan gas global, serta rencana Teheran untuk mengenakan biaya bagi kapal-kapal yang melintas.
Iran secara efektif menutup jalur tersebut setelah dimulainya kampanye serangan udara gabungan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari. Penutupan ini berdampak signifikan karena Selat Hormuz merupakan salah satu rute paling penting dalam perdagangan energi dunia.
Sebagai respons, AS bulan lalu mengumumkan blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran setelah perundingan damai di Pakistan gagal menghasilkan terobosan. Langkah ini semakin memperuncing ketegangan antara kedua negara.
US Central Command, yang bertanggung jawab atas operasi militer AS di Timur Tengah, menyatakan bahwa hingga Jumat pihaknya telah mengalihkan 45 kapal untuk "memastikan kepatuhan" terhadap blokade yang diberlakukan.
Menteri Pertahanan AS, Pete Hegseth, sebelumnya mengatakan bahwa blokade tersebut akan berlangsung "selama diperlukan." Sementara itu, perwira militer tertinggi AS, Gen Dan Caine, menegaskan bahwa kebijakan itu "berlaku untuk semua kapal, tanpa memandang kewarganegaraan, yang menuju atau berasal dari pelabuhan Iran."
Di pihak lain, Iran menegaskan tidak akan melonggarkan tekanan di Selat Hormuz selama AS masih memberlakukan blokade terhadap pelabuhan-pelabuhannya.
(luc/luc)
Addsource on Google















































