Jakarta, CNBC Indonesia - Peta politik Israel mulai berubah menjelang pemilu akhir tahun ini. Dua tokoh oposisi, Naftali Bennett dan Yair Lapid, memutuskan untuk bekerja sama guna menantang Perdana Menteri Benjamin Netanyahu yang saat ini masih berkuasa.
Dalam pernyataan bersama yang disiarkan televisi, Bennett dan Lapid mengumumkan pembentukan partai baru bernama Together, yang akan dipimpin oleh Bennett. Langkah ini disebut sebagai upaya strategis menyatukan suara anti-pemerintah yang selama ini terpecah.
"Saya dengan senang hati mengumumkan bahwa malam ini, bersama teman saya Yair Lapid, kami mengambil langkah paling Zionis dan patriotik untuk negara kami," ujar Bennett, dikutip dari Al Jazeera, Minggu (3/5/2026).
Lapid menegaskan, perbedaan ideologi bukan penghalang dalam kerja sama tersebut. "Bennett adalah politisi sayap kanan, tetapi jujur, dan ada kepercayaan di antara kami," katanya.
Ia menambahkan, aliansi ini bertujuan "menyatukan blok, mengakhiri perpecahan internal, dan memfokuskan semua upaya untuk memenangkan pemilu penting yang akan datang."
Koalisi ini juga dibarengi kritik tajam terhadap kepemimpinan Netanyahu, terutama terkait penanganan konflik pasca-serangan Hamas pada 7 Oktober 2023. Bennett menyatakan, jika terpilih, ia akan membentuk komisi penyelidikan nasional untuk mengusut dugaan kegagalan yang berujung pada serangan tersebut, klaim yang hingga kini dibantah pemerintah.
Sementara itu, Lapid turut mengkritik kebijakan luar negeri pemerintah. Ia bahkan menyebut gencatan senjata dua pekan dengan Iran sebagai "bencana politik".
Bennett dan Lapid bukan pertama kali bekerja sama. Pada 2021, keduanya sempat membentuk koalisi yang berhasil mengakhiri 12 tahun kekuasaan Netanyahu. Namun, pemerintahan itu hanya bertahan kurang dari 18 bulan. Netanyahu kemudian kembali berkuasa usai memenangkan pemilu November 2022 dan membentuk pemerintahan paling kanan dalam sejarah Israel.
Kini, konflik berkepanjangan setelah serangan Hamas dinilai mulai menggerus kredibilitas Netanyahu, khususnya dalam isu keamanan nasional. Sejumlah survei terbaru menunjukkan persaingan semakin ketat.
Survei yang dirilis N12 News pada 23 April memproyeksikan partai Likud yang dipimpin Netanyahu meraih 25 kursi parlemen. Sementara itu, Bennett diperkirakan mengamankan 21 kursi, dan partai yang dipimpin Lapid hanya meraih 7 kursi, anjlok dari 24 kursi saat ini.
(luc/luc)
Addsource on Google















































