REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Satu unit bus listrik TransJakarta berpotensi menghemat subsidi bahan bakar minyak (BBM) pemerintah hingga Rp302 juta per tahun. Jika dihitung dengan sejumlah aspek lainnya, penghematan biaya selama operasional 5,5 tahun per unit bisa menyentuh Rp3,9 miliar, atau seharga satu unit bus listrik 12 meter.
Angka tersebut dihitung berdasarkan selisih harga solar subsidi dan harga BBM komersial serta efisiensi operasional bus listrik dibandingkan bus berbahan bakar minyak (ICE).
"Memang harga bus listrik itu bisa dua kali lipat lebih mahal dibandingkan harga bus ICE, tapi kenaikan harga itu kita imbangi dengan adanya biaya energi yang empat kali lebih murah dibandingkan ICE, termasuk biaya perawatannya pun dua kali lebih murah," kata Spesialis Utama Transformasi dan Manajemen Perubahan TransJakarta Gatot Indra Koswara pada Focus Group Discussion (FGD) bersama Inisiatif Strategis Transportasi (Instran) dan PT Kalista Nusa Armada di Jakarta, Rabu (15/4/2026).
Gatot menjelaskan, perhitungan tersebut menggunakan asumsi harga solar subsidi sebesar Rp6.800 per liter, sementara harga BBM komersial (Dexlite) mencapai sekitar Rp14.500 per liter.
Dengan selisih sekitar Rp7.700 per liter, Gatot menjelaskan satu unit bus ICE TransJakarta yang biasanya menempuh jarak 78.475 kilometer per tahun dengan efisiensi 2 kilometer per liter membutuhkan sekitar 39.238 liter solar per tahun. Dari kebutuhan tersebut, potensi subsidi yang dapat ditekan mencapai sekitar Rp302 juta per unit tiap tahun.
"Kalau kita konversikan selisih antara harga biaya subsidi dengan biaya solar non-subsidi Dexlite, itu kurang lebih satu tahunnya Rp302 juta per satu unit subsidi pemerintah yang harus dikeluarkan untuk mensubsidi solar untuk angkutan umum ataupun angkutan barang," kata Gatot.
Selain penghematan di tingkat pemerintah pusat, TransJakarta juga mencatat potensi efisiensi biaya di tingkat Pemerintah Provinsi.
Dari sisi energi, biaya operasional bus ICE tercatat sekitar Rp3.400 per kilometer, sedangkan bus listrik sekitar Rp800 per kilometer berdasarkan harga listrik Rp731 per kWh dan efisiensi energi masing-masing kendaraan. Selisih tersebut menghasilkan penghematan sekitar Rp204 juta per unit per tahun, menurut Gatot.
Dari sisi perawatan, bus ICE disebut membutuhkan biaya sekitar Rp5.400 per kilometer, sementara bus listrik sekitar Rp2.600 per kilometer. Perbedaan ini memberikan tambahan penghematan sekitar Rp219,7 juta per unit per tahun.
Jika seluruh komponen penghematan tersebut dijumlahkan, yakni subsidi BBM, biaya energi, dan biaya perawatan, Transjakarta memperkirakan total efisiensi mencapai nilai yang signifikan dalam jangka panjang.
Dalam periode sekitar 5,5 tahun, akumulasi penghematan disebut dapat mencapai sekitar Rp3,99 miliar per unit, atau setara dengan harga satu unit bus listrik 12 meter saat ini.
"Kalau kita bicara ada biaya penghematan perawatan, ada penghematan energinya, sebenarnya kalau kita kumpulkan itu menjadi satu, kalau kita kali 5,5 tahun, itu mendapatkan (penghematan) biaya kurang lebih Rp3,9 miliar, atau kalau saat ini hampir seharga satu bus listrik 12 meter," jelas Gatot.
Gatot menegaskan, meskipun investasi awal bus listrik masih sekitar dua kali lebih mahal dibandingkan bus diesel, penghematan dari sisi operasional dan subsidi energi dinilai dapat mengompensasi biaya tersebut.
Selain efisiensi fiskal, penggunaan bus listrik juga disebut memberikan manfaat tambahan berupa penurunan emisi dan peningkatan kualitas udara perkotaan.
sumber : Antara

4 hours ago
2

















































