Harianjogja.com, JOGJA—Platform media sosial TikTok mengambil kebijakan berbeda dari sebagian besar layanan pesan digital. Perusahaan menolak menerapkan sistem enkripsi end-to-end (E2EE) pada fitur pesan langsung atau direct message (DM) dengan alasan untuk memperkuat perlindungan terhadap pengguna usia muda.
Kebijakan yang diambil oleh perusahaan induk TikTok, ByteDance, memicu perdebatan di kalangan pakar keamanan siber dan aktivis perlindungan anak. TikTok menilai transparansi pesan lebih penting untuk mencegah berbagai tindak kriminal di ruang digital.
E2EE Jadi Standar Industri
Secara teknis, enkripsi end-to-end merupakan sistem keamanan yang memastikan hanya pengirim dan penerima yang dapat membaca isi percakapan. Bahkan penyedia layanan tidak memiliki akses terhadap isi pesan tersebut.
Teknologi ini telah menjadi standar pada berbagai layanan komunikasi digital seperti WhatsApp, Signal, iMessage, dan Facebook Messenger.
Sementara itu, Telegram menyediakan E2EE sebagai opsi tambahan melalui fitur percakapan rahasia, bukan sebagai pengaturan standar.
TikTok memilih tidak mengadopsi sistem tersebut karena menilai enkripsi penuh dapat menyulitkan deteksi aktivitas berbahaya, terutama yang berkaitan dengan eksploitasi anak.
TikTok Klaim Tetap Lindungi Data Pengguna
Dalam penjelasan kepada BBC, TikTok menyebut sistem pesan mereka dirancang untuk menyeimbangkan privasi pengguna dengan kemampuan memantau ancaman keamanan secara proaktif.
"Sistem pesan kami dirancang untuk menyeimbangkan privasi pengguna dengan kemampuan menangani masalah keamanan secara proaktif," tulis pernyataan resmi perusahaan.
Meski tidak menggunakan E2EE, TikTok memastikan pesan pengguna tetap dilindungi melalui enkripsi standar industri ketika data dikirim (in transit) maupun saat disimpan di server (at rest), serupa dengan sistem keamanan yang digunakan oleh layanan email seperti Gmail.
Perusahaan juga menyebut akses terhadap pesan pribadi sangat terbatas dan hanya dapat dilakukan oleh personel khusus dalam kondisi tertentu, seperti permintaan hukum resmi atau laporan pelanggaran serius.
Respons Pakar dan Situasi TikTok di AS
Analis media sosial Matt Navarra menilai keputusan TikTok sebagai langkah berani karena menempatkan keamanan proaktif di atas privasi mutlak.
Menurutnya, pendekatan ini dapat membantu mendeteksi praktik grooming, penipuan, atau perundungan yang sering terjadi melalui pesan pribadi.
Di sisi lain, posisi TikTok di Amerika Serikat mulai lebih stabil setelah adanya kebijakan dari Presiden Donald Trump pada September 2025.
Melalui perintah eksekutif tersebut, operasional TikTok di AS dialihkan ke perusahaan patungan bernama TikTok USDS Joint Venture LLC sebagai bagian dari upaya memenuhi regulasi keamanan data, algoritma, dan moderasi konten.
Langkah ini diharapkan dapat meningkatkan kepercayaan regulator dan publik terhadap model keamanan TikTok, meski tanpa penerapan enkripsi end-to-end pada fitur pesan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


















































