Tiga Skema Murur Menurut Musyrif Diny Kemenhaj

3 weeks ago 31

Jamaah haji Indonesia mengumpulkan batu kerikil saat mabit di Muzdalifah, Makkah, Arab Saudi, Kamis (5/6/2025) malam. Setelah mabit di Muzdalifah, jamaah haji melanjutkan perjalanan ke Mina untuk melempar jumrah aqabah.

REPUBLIKA.CO.ID, MAKKAH — Musyrif Diny Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) menjelaskan adanya tiga skema mabit atau bermalam di Muzdalifah yang dibenarkan secara syariat bagi para calon jamaah haji.

Skema tersebut menjadi solusi pelaksanaan wajib haji di tengah kepadatan jumlah jamaah calon haji dari seluruh dunia, tanpa mengesampingkan dalil syariat maupun keselamatan jiwa. "Disebut dengan mabit kalau dia melewati nisful lail (tengah malam)," ujar Cholil di Makkah, Arab Saudi, Rabu(20/5/2026).

Lebih lanjut, Cholil merinci ketiga skema mabit di Muzdalifah bagi jamaah calon haji tersebut. Pertama adalah mabit 'adi atau mabit normal. Jamaah haji diberangkatkan dari Arafah menuju Muzdalifah setelah waktu Maghrib. Jamaah turun dan menginap hingga lewat tengah malam.

Waktu ini diisi dengan berdzikir, membaca Alquran, serta mengumpulkan batu untuk melontar jumrah. Selepas tengah malam, bus akan mengangkut jamaah haji menuju Mina.

Yang kedua adalah mabit murur. Skema tersebut berlaku bagi jamaah haji yang tiba di Muzdalifah saat tengah malam. Jamaah haji cukup berniat mabit tanpa harus turun dari kendaraan. Bus hanya berhenti sejenak di Muzdalifah sebelum bergerak kembali melanjutkan perjalanan menuju Mina.

sumber : Antara

Read Entire Article
Ekonomi | Asset | Lokal | Tech|