Tanda Tanya di Selat Hormuz, Sejauh Mana Iran Mau "Berbaik Hati"?

8 hours ago 1

Jakarta, CNBC Indonesia - Pemerintah Iran akhirnya memberikan sinyal pelonggaran di jalur perdagangan energi paling vital di dunia, Selat Hormuz, di tengah krisis energi global yang kian mencekam. Teheran menyatakan bahwa kapal-kapal yang dianggap "tidak bermusuhan" kini diizinkan untuk melintas dengan aman melalui selat tersebut.

Pernyataan ini muncul pada Rabu (25/03/2026), menyusul lumpuhnya lalu lintas maritim yang telah memicu krisis energi global terbesar dalam beberapa dekade terakhir. Misi Iran untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dalam pengumumannya pada hari Selasa menyebutkan bahwa kapal-kapal dapat memanfaatkan jalur tersebut untuk transit.

"Kapal-kapal dapat memanfaatkan lintasan aman melalui jalur air tersebut, asalkan mereka tidak berpartisipasi atau mendukung tindakan agresi terhadap Iran dan sepenuhnya mematuhi peraturan keselamatan serta keamanan yang dinyatakan," tulis pernyataan resmi Misi Iran, dilansir Reuters.

Otoritas Iran menegaskan bahwa setiap pergerakan kapal yang melintasi selat harus berada di bawah pengawasan ketat. Berdasarkan pernyataan yang diunggah di media sosial, izin transit diberikan melalui koordinasi yang jelas dengan pihak berwenang di Teheran.

"Kapal-kapal akan diizinkan untuk transit di selat dalam koordinasi dengan otoritas Iran yang kompeten," lanjut pernyataan tersebut.

Selain pengumuman tersebut, Iran dilaporkan telah membagikan pernyataan serupa mengenai status selat kepada Organisasi Maritim Internasional (IMO). Meskipun demikian, Teheran tidak merinci lebih lanjut mengenai regulasi teknis yang harus dipatuhi oleh kapal-kapal tersebut untuk dapat menavigasi wilayah yang dilalui seperlima pasokan minyak dan gas alam cair (LNG) dunia tersebut.

Langkah Iran ini bertepatan dengan klaim dari Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang menyatakan bahwa negosiasi sedang berlangsung untuk mengakhiri perang AS-Israel terhadap Iran. Trump memberikan sinyal optimisme meskipun sebelumnya pihak Iran sempat membantah adanya pembicaraan antara kedua belah pihak.

Data dari firma intelijen maritim Windward menunjukkan penurunan drastis lalu lintas kapal sejak perang pecah pada 28 Februari lalu. Jika biasanya terdapat rata-rata 120 transit harian, pada hari Senin hanya tercatat lima kapal yang terpantau melintasi Selat Hormuz melalui sistem identifikasi otomatis mereka.

Kondisi ini sebelumnya telah memicu kekhawatiran para analis bahwa harga minyak mentah bisa meroket hingga US$150 atau bahkan US$200 per barel jika blokade berlanjut. Namun, kabar mengenai rencana perdamaian 15 poin dari pemerintahan Donald Trump segera mendinginkan pasar.

Harga minyak mentah Brent, yang merupakan patokan internasional, langsung anjlok lebih dari 9% pada hari Rabu. Penurunan tajam ini terjadi setelah adanya laporan mengenai proposal perdamaian yang dikirimkan AS ke Iran untuk mengakhiri konfrontasi bersenjata tersebut.

Sinyal berakhirnya konflik juga direspons positif oleh lantai bursa di Asia pada hari Rabu pagi. Indeks Nikkei 225 Jepang tercatat menguat 2,3%, sementara indeks KOSPI Korea Selatan melonjak 2,6%, dan Hang Seng Hong Kong ikut merangkak naik 0,7% di tengah harapan pulihnya stabilitas ekonomi global.

(tps/luc)

Add as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Ekonomi | Asset | Lokal | Tech|