Studi: Benci Itu Melelahkan, Memaafkan Itu Menyehatkan

4 hours ago 2

Saling memaafkan (ilustrasi). Penelitian menunjukkan bahwa dendam yang dipelihara mungkin adalah beban terberat yang justru menghambat kebahagiaan dan kesehatan Anda sendiri.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Menyimpan dendam terkadang terasa seperti memiliki "hak istimewa" untuk tetap marah pada seseorang yang telah menyakiti kita. Ada rasa puas yang aneh saat kita menolak memaafkan, seolah-olah dengan menjaga api amarah tetap menyala, kita sedang menghukum orang tersebut.

Namun, sebuah penelitian menunjukkan bahwa dendam yang dipelihara mungkin adalah beban terberat yang justru menghambat kebahagiaan dan kesehatan Anda sendiri. Sains kini memiliki argumen yang sangat kuat mengapa Anda harus mulai belajar melepaskan beban tersebut.

Sebuah studi yang diterbitkan dalam jurnal NPJ Mental Health melakukan analisis mendalam terhadap lebih dari 200 ribu orang di 23 negara. Hasilnya sangat menarik. Mereka yang memiliki kecenderungan untuk memaafkan, atau yang disebut oleh para ahli sebagai "pengampunan disposisional", ternyata memiliki tingkat kesejahteraan yang jauh lebih baik satu tahun kemudian.

Apa itu pengampunan disposisional?

Mungkin Anda bertanya-tanya, apa sebenarnya pengampunan disposisional itu? Secara sederhana, ini adalah kecenderungan atau "bakat" seseorang untuk memaafkan orang lain dalam berbagai situasi yang berbeda. Jadi, bukan hanya memaafkan satu kejadian spesifik, tapi lebih kepada karakter dasar seseorang yang memang lebih mudah "melepaskan" daripada "menyimpan".

Penulis utama studi tersebut sekaligus psikolog dan ilmuwan peneliti di Human Flourishing Program, Universitas Harvard, Richard G Cowden, PhD, mengatakan kecenderungan untuk memaafkan ini berdampak langsung pada kualitas hidup. Berdasarkan data yang diolah, mereka yang lebih pemaaf melaporkan tingkat optimisme yang lebih tinggi, pemahaman yang lebih baik tentang tujuan hidup, dan tingkat kepuasan yang lebih besar dalam hubungan sosial mereka.

“Memaafkan biasanya bukan proses yang terjadi sekali jadi atau 'semua atau tidak sama sekali',” ujar Cowden dikutip dari Women's Health pada Rabu (25/3/2026).

Read Entire Article
Ekonomi | Asset | Lokal | Tech|