Siswa Keracunan Spageti MBG, Operasional Dapur Disetop

4 hours ago 3

Siswa Keracunan Spageti MBG, Operasional Dapur Disetop Menu Makan Bergizi Gratis (MBG) yang diterima di SDN Pondok Kelapa 01, Duren Sawit, Jakarta Timur, Kamis (2/4 - 2026). / ANTARA / Dokumentasi Pribadi

Harianjogja.com, JAKARTA— Operasional dapur penyedia Makan Bergizi Gratis (MBG) di kawasan Pondok Kelapa, di Duren Sawit, Jakarta Timur, dihentikan sementara menyusul kasus dugaan keracunan yang menimpa puluhan siswa. Langkah ini diambil setelah ditemukan persoalan pada standar operasional fasilitas tersebut.

Badan Gizi Nasional (BGN) memutuskan menangguhkan aktivitas Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Pondok Kelapa 2 untuk waktu yang belum ditentukan.

Wakil Kepala BGN Bidang Komunikasi Publik dan Investigasi, Nanik Sudaryati Deyang, menyebut penghentian dilakukan karena kondisi dapur, termasuk tata letak dan Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL), belum memenuhi standar yang ditetapkan.

Selain itu, keputusan tersebut juga berkaitan dengan insiden yang menyebabkan 72 siswa mengalami gejala gangguan kesehatan setelah mengonsumsi menu dari program MBG.

BGN menyatakan bertanggung jawab penuh terhadap biaya pengobatan seluruh korban yang saat ini menjalani perawatan di RSKD Duren Sawit.

“Kami menyampaikan permohonan maaf atas kejadian ini. BGN juga akan bertanggung jawab terhadap seluruh biaya pengobatan di rumah sakit,” ujar Nanik, Sabtu (4/4/2026).

Di sisi lain, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta turut memastikan penanganan korban berjalan cepat melalui koordinasi lintas instansi.

Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, menyampaikan bahwa pembiayaan bagi pasien yang terdaftar dalam BPJS Kesehatan juga akan ditanggung hingga proses pemulihan selesai.

Ia menegaskan koordinasi antara BGN, pemerintah daerah, dinas pendidikan, dinas kesehatan, serta rumah sakit berlangsung intensif sejak kasus ini mencuat.

Sementara itu, hasil pemeriksaan laboratorium terhadap sampel makanan MBG masih ditunggu untuk memastikan penyebab pasti kejadian.

Pemerintah Kota Jakarta Timur menegaskan fokus utama saat ini adalah pemulihan kondisi para siswa dan guru yang terdampak.

Kepala Suku Dinas Pendidikan Wilayah I Jakarta Timur, M. Fahmi, mengatakan pihaknya belum dapat menyimpulkan penyebab insiden sebelum hasil laboratorium resmi keluar.

“Tidak bisa juga kita menyebut ini keracunan kalau datanya belum ada. Yang mengetahui hasilnya hanya laboratorium, jadi kita tunggu saja,” ujarnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : Antara

Read Entire Article
Ekonomi | Asset | Lokal | Tech|