Jumali Rabu, 20 Mei 2026 17:17 WIB
Harianjogja.com, JOGJA—Perusahaan teknologi global Meta Platforms Inc. kembali menjadi sorotan setelah mulai menyampaikan rencana pemutusan hubungan kerja (PHK) kepada ribuan karyawannya di berbagai negara sebagai bagian dari restrukturisasi besar-besaran perusahaan.
Langkah ini terjadi di tengah strategi besar Meta yang tengah mengalihkan fokus investasi pada pengembangan kecerdasan buatan (AI), sekaligus menekan biaya operasional di berbagai lini bisnis yang menaungi Facebook, Instagram, dan WhatsApp.
Strait Times melaporkan, gelombang pemberitahuan PHK disebut mulai dikirimkan dari Singapura pada Rabu (20/5/2026) pukul 04.00 waktu setempat. Karyawan di sejumlah wilayah lain seperti Inggris dan Amerika Serikat juga dijadwalkan menerima notifikasi serupa sesuai zona waktu masing-masing, dengan imbauan untuk bekerja dari rumah sementara proses restrukturisasi berlangsung.
Dalam kebijakan ini, Meta dikabarkan akan memangkas sekitar 8.000 posisi atau sekitar 10 persen dari total tenaga kerjanya secara global. Sumber internal juga menyebutkan kemungkinan adanya gelombang lanjutan hingga akhir 2026, yang menambah ketidakpastian di kalangan pekerja sektor teknologi.
Di sisi lain, restrukturisasi ini tidak hanya berupa pemangkasan, tetapi juga pengalihan sekitar 7.000 karyawan ke tim baru yang berfokus pada pengembangan AI. Perubahan ini sejalan dengan strategi CEO Mark Zuckerberg yang menjadikan AI sebagai prioritas utama perusahaan untuk bersaing dengan pemain besar lain seperti Google dan OpenAI.
Meta juga dilaporkan menyiapkan investasi lebih dari USD 128 miliar untuk belanja modal AI pada 2026, hampir dua kali lipat dibandingkan tahun sebelumnya. Langkah ini diiringi upaya penyederhanaan struktur organisasi agar perusahaan bergerak lebih cepat dengan tim yang lebih kecil dan dinilai lebih efisien.
Namun, kebijakan ini memunculkan ironi di tengah kinerja keuangan perusahaan yang justru sangat kuat. Dalam laporan kuartal pertama 2026, Meta mencatat pendapatan sebesar USD 56,31 miliar dengan laba mencapai USD 26,8 miliar, menunjukkan bahwa PHK tidak berkaitan dengan kondisi kerugian.
Kondisi tersebut memicu pertanyaan di kalangan karyawan, terutama karena pemangkasan terjadi di saat perusahaan mencatat keuntungan besar. Sejumlah pekerja bahkan mengungkapkan rasa frustrasi terhadap situasi tersebut, meski perusahaan menilai langkah ini sebagai bagian dari efisiensi jangka panjang.
Selain PHK, Meta juga diketahui mendorong penggunaan agen AI untuk membantu pekerjaan teknis seperti pemrograman. Perusahaan bahkan merancang sistem pemantauan aktivitas kerja karyawan, termasuk pola ketikan dan pergerakan mouse, yang kemudian menuai kritik dan petisi dari lebih dari seribu karyawan yang menolak kebijakan tersebut.
Bagi karyawan yang terdampak, Meta menyiapkan paket pesangon berupa 16 minggu gaji pokok ditambah dua minggu untuk setiap tahun masa kerja, serta tunjangan kesehatan dan dukungan karier. Namun, bagi sebagian pekerja, kondisi tersebut tetap tidak menghapus kekhawatiran terhadap masa depan di tengah cepatnya perubahan industri teknologi akibat dominasi AI.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Jumali Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online

















































