
Oleh: Suryanto, Guru Besar Psikologi Sosial Fakultas Psikologi Universitas Airlangga
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama telah berakhir pada 31 Agustus 2026. Keputusan telah ditetapkan dan KH Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin mendapat amanah sebagai Ketua Umum PBNU masa khidmat 2026–2031, sementara KH Miftachul Akhyar kembali dipercaya sebagai Rais Aam PBNU.
Sebuah kontestasi antar kandidat telah selesai. Namun, sesungguhnya pekerjaan yang lebih besar justru baru dimulai, yaitu kemenangan yang memastikan bahwa setelah Muktamar tidak ada seorang pun yang merasa kehilangan rumahnya. Pada muktamar memang selalu menghadirkan pilihan. Ada kelompok pendukung dan ada yang menolak. Ada yang berpandangan sama, ada yang berpandangan berbeda, dan semua ini sangatlah manusiawi.
Muktamar ke-35 di Jombang pun berlangsung dinamis. Mekanisme pemilihan Ketua Umum PBNU mengalami perubahan dengan memberikan peran menentukan kepada Ahlul Halli wal Aqdi (AHWA), setelah sebelumnya dilakukan penjaringan aspirasi muktamirin.
Perbedaan pandangan mengenai mekanisme maupun pilihan merupakan bagian dari dinamika organisasi besar. Perbedaan seperti itu tidak perlu terlalu ditakuti, karena tidak ada satu organisasipun yang hidup tanpa adanya perbedaan. Yang lebih penting adalah jangan sampai perbedaan pilihan bertahan terlalu lama setelah pemilihan selesai, lalu perlahan berubah menjadi jarak antarsaudara.
Dari “Kami” dan “Mereka” Menjadi “Kita”
Dalam psikologi sosial, keputusan formal tidak selalu otomatis menyelesaikan perasaan manusia. Seseorang dapat menerima keputusan secara organisatoris, tetapi di dalam hati mungkin masih menyimpan kekecewaan. Ada yang merasa kurang didengar. Ada pula yang merasa harapannya belum terakomodasi.
Itulah yang dapat disebut sebagai residu emosional sebuah kontestasi. Jika tidak dikelola dengan bijak, residu semacam ini dapat membentuk polarisasi identitas: “kami” dan “mereka”. Padahal setelah Muktamar selesai, “kami” dan “mereka” semestinya kembali menjadi “kita”.
Tidak perlu ada warga yang merasa lebih NU hanya karena calon yang didukungnya memperoleh amanah. Sebaliknya, juga tidak semestinya merasa kehilangan tempat dalam jam’iyah kalau berbeda pilihan.
NU terlalu besar untuk dipersempit menjadi kelompok pemenang dan kelompok yang kalah. Karena, ikatan warga NU bahkan telah terbentuk jauh sebelum sebuah Muktamar berlangsung. Bagaimana pesantren, hubungan kiai dan santrinya berbagai bentuk pengajian, tahlilan, madrasah, masjid, majelis taklim, dan tradisi silaturahim telah tumbuh jauh dari muktama ini berlangsung. Ini adalah kekuatan terbesar NU. Selain itu, ada jutaan warga yang mungkin tidak pernah datang ke arena Muktamar, tetapi sepanjang hidup merasa bahwa NU adalah bagian dari dirinya.
Merekalah sesungguhnya rumah besar itu. Karena itu, salah satu ujian penting kepemimpinan baru adalah bagaimana membuat semua orang tetap merasakan bahwa rumah tersebut cukup luas bagi siapa pun.
Kemenangan Membutuhkan Kerendahan Hati
Kerendahan hati seorang pemenang menjadi penting dalam kontestasi seperti Muktamar ini. Pemenang yang matang tidak membutuhkan kekalahan orang lain untuk menegaskan kemenangannya. Pemenang tidak akan pernah mempermalukan mereka yang berbeda pilihan dan menciptakan jarak.
Sebaliknya, pemimpin besar justru membutuhkan orang-orang yang memiliki pandangan berbeda.
Sebab kepemimpinan selalu membutuhkan cermin. Pemimpin yang hanya dikelilingi orang-orang yang mengatakan “benar” dapat perlahan kehilangan kesempatan untuk melihat kekurangannya sendiri. Kadang-kadang kritik dan perbedaan justru lahir dari kepedulian.
Sepertti halnya pemenang, kedewasaan tentu juga dibutuhkan bagi yang kebetulan pilihan berbeda dari hasil Keputusan Muktamar. Tidak memperoleh amanah bukan berarti kehilangan kesempatan untuk berkhidmah. Karena, dalam organisasi dan mungkin tradisi NU, pengabdian tidak pernah sepenuhnya bergantung pada jabatan.
Begitu banyak kiai menghabiskan hidup dengan mendidik santri tanpa mengejar posisi. Banyak guru madrasah, pengurus ranting, ibu-ibu Muslimat, kader Fatayat, Ansor, IPNU-IPPNU, dan warga NU di pelosok yang bekerja dalam sunyi tanpa dikenal publik. Mereka mengajarkan sesuatu yang sederhana tetapi sangat dalam yaitu bahwa jabatan dapat berakhir, sedangkan khidmah dapat berlangsung sepanjang hayat.
Kembali kepada Tradisi Silaturahim
NU sesungguhnya memiliki modal kebudayaan yang sangat kuat untuk merawat perbedaan. Ada tabayun, musyawarah, tawadhu, dan adab kepada ulama. Selain itu ada satu tradisi sederhana yang justru sangat kuat yaitu silaturahim.
Terkadang ketegangan tidak membutuhkan pidato panjang. Ia hanya membutuhkan kesediaan untuk datang, duduk bersama, minum kopi, saling mendengarkan, lalu kembali memanggil orang yang kemarin berbeda pilihan sebagai saudara.
Bukankah wajah NU selama ini memang demikian? Jika konflik elite berlangsung terlalu lama, biaya yang dikeluarkan bukan hanya biaya psikologis. Energi organisasi pun akan tersedot untuk melihat ke dalam: siapa mendukung siapa, siapa memperoleh posisi, siapa berada di kelompok mana.
Padahal persoalan umat terus berjalan. Anak-anak membutuhkan pendidikan ayng berkualitas, pesantren membutuhkan kemandirian dan profesionalisme, UMKM membutuhkan dukungan dan pembinaan dan generasio penerus membutuhkan bimbingan dalam menghadapi perubahan teknologi yang begitu cepat. Mereka tidak terlalu membutuhkan cerita tentang siapa berada di kubu mana. Mereka membutuhkan NU hadir.
Oleh karena itu, setelah Muktamar, pertanyaan kita semestinya berubah. Bukan lagi: siapa bersama siapa? Melainkan: apa yang dapat kita kerjakan bersama? Psikologi kelompok mengenal istilah superordinate goals, yakni tujuan besar yang hanya dapat dicapai apabila kelompok-kelompok yang sebelumnya berbeda bersedia bekerja sama. NU mempunyai tujuan besar itu: khidmah kepada umat. Ketika tujuan bersama diperbesar, sekat-sekat kelompok akan terasa semakin kecil.
Merawat Hati
Rekonsiliasi karena itu tidak cukup ditunjukkan melalui foto bersama atau pernyataan bahwa persoalan telah selesai. Rekonsiliasi harus dapat dirasakan. Ia hadir ketika orang yang berbeda pilihan tetap memperoleh ruang. Ia terasa ketika kritik tidak segera dicurigai sebagai permusuhan. Ia hidup ketika mereka yang sempat kecewa bersedia memberikan kesempatan kepada kepemimpinan baru untuk bekerja. Perbedaan tidak harus dihilangkan. Yang perlu dihilangkan adalah keinginan mengubah perbedaan menjadi permusuhan.
NU telah berjalan lebih dari satu abad. Ketua umum akan berganti. Pengurus akan berganti. Muktamar akan datang dan pergi. Tetapi persaudaraan semestinya bertahan jauh lebih lama daripada jabatan.
Karena itu, salah satu amanah terbesar kepemimpinan baru bukan sekadar menyusun struktur dan menjalankan program. Ada pekerjaan yang lebih halus, tetapi mungkin justru lebih berat: merawat hati. Menjaga mereka yang memperoleh amanah agar tetap rendah hati. Membuat mereka yang berbeda pilihan tetap merasa dihargai. Dan meyakinkan seluruh warga bahwa rumah besar bernama Nahdlatul Ulama tetap cukup luas untuk semuanya.
Sebab pada akhirnya, kebesaran seorang pemimpin tidak hanya diukur dari banyaknya orang yang mendukungnya. Kebesaran itu justru terlihat ketika mereka yang dahulu berbeda pilihan pun tetap merasa menjadi saudara—dan dengan lapang hati bersedia berjalan bersamanya untuk melayani umat.
Disclaimer: Pandangan yang disampaikan dalam tulisan di atas adalah pendapat pribadi penulisnya yang belum tentu mencerminkan sikap Republika soal isu-isu terkait.

2 hours ago
3

















































