Selat Hormuz Iran Ditutup, Biaya Sektor Ini di RI Bakal 'Terbang'

3 hours ago 2

Jakarta, CNBC Indonesia - Perang di kawasan Timur Tengah antara Iran melawan Israel-Amerika memunculkan kekhawatiran baru terhadap stabilitas biaya logistik global. Jika jalur perdagangan energi utama dunia mengalami gangguan, efeknya diperkirakan tidak hanya terasa pada pasar minyak, tetapi juga merambat hingga biaya distribusi barang di Indonesia.

Indonesia yang masih sangat bergantung pada transportasi jalan untuk distribusi barang berpotensi mengalami kenaikan biaya logistik apabila harga bahan bakar meningkat. Kondisi ini pada akhirnya dapat mendorong kenaikan harga barang di tingkat konsumen.

Founder dan CEO Supply Chain Indonesia, Setijadi, mengatakan potensi gangguan pada jalur energi dunia tersebut bisa memicu efek berantai terhadap harga energi internasional.

"Eskalasi konflik yang terjadi di Timur Tengah dan potensi gangguan di Selat Hormuz dapat meningkatkan biaya distribusi nasional dan mendorong kenaikan harga barang di dalam negeri," kata Setijadi dalam keterangannya, Senin (2/2/2026).

Jalur laut tersebut memegang peran penting dalam perdagangan energi global. Porsi besar perdagangan minyak dan gas dunia yang melewati kawasan itu membuat setiap gangguan berpotensi langsung memicu lonjakan harga energi internasional.

"Selat Hormuz dilalui sekitar 20 persen konsumsi minyak dunia serta sekitar 20 sampai 25 persen perdagangan LNG global. Jika terjadi gangguan di jalur ini, harga energi internasional berpotensi terdorong naik," ujarnya.

Kenaikan harga energi global biasanya akan diteruskan ke dalam negeri melalui harga bahan bakar transportasi, khususnya solar yang digunakan oleh kendaraan logistik.

"Dampaknya ke Indonesia terjadi melalui transmisi harga minyak global Brent ke harga solar domestik. Solar merupakan komponen utama biaya operasional transportasi jalan yang masih menjadi tulang punggung sistem logistik nasional," jelasnya.

Lonjakan harga energi global juga berpotensi langsung memengaruhi biaya operasional sektor transportasi barang. Perubahan kecil pada harga bahan bakar dapat berdampak cukup besar terhadap ongkos distribusi.

"Dengan asumsi komponen BBM mencapai sekitar 35 sampai 40 persen dari total biaya operasi truk, kenaikan harga solar 10 persen dapat mendorong kenaikan ongkos angkut sekitar 3,5 sampai 4 persen," kata Setijadi.

Kenaikan biaya distribusi tersebut kemudian dapat merambat ke harga barang di pasar. Hal ini terutama terasa pada produk yang biaya logistiknya relatif besar dibandingkan harga jualnya.

"Jika harga solar meningkat 20 persen, ongkos truk berpotensi naik 7 sampai 8 persen. Dalam skenario lebih berat ketika solar naik hingga 30 persen, ongkos angkut dapat melonjak hingga 10,5 sampai 12 persen," ujarnya.

Dalam kondisi tersebut, tekanan harga di tingkat konsumen dinilai tidak dapat dihindari karena biaya distribusi menjadi komponen penting dalam pembentukan harga produk.

"Rata-rata biaya logistik di Indonesia sekitar 14 persen dari harga produk. Jika ongkos truk naik 7 sampai 8 persen, harga barang dapat terdorong naik sekitar 0,5 persen, bahkan mendekati 0,8 persen jika kenaikan ongkos angkut melebihi 10 persen," kata Setijadi.

(hoi/hoi)

Add as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Ekonomi | Asset | Lokal | Tech|