Foto ilustrasi siswa berangkat sekolah menaiki sepeda, dibuat menggunakan Artificial Intelligence.
Harianjogja.com, JAKARTA— Gerakan hemat energi mulai didorong masuk ke lingkungan sekolah dan aktivitas aparatur sipil negara (ASN) sebagai bagian dari perubahan gaya hidup yang lebih berkelanjutan. Langkah ini diarahkan untuk menjaga kualitas layanan pendidikan sekaligus memperkuat ketahanan nasional.
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu'ti, menegaskan bahwa transformasi budaya kerja tidak akan mengurangi layanan kepada masyarakat. Justru, pendekatan baru ini diharapkan membuat layanan pendidikan tetap optimal dan menjangkau lebih luas.
Ia menyebut semangat gotong royong menjadi kunci dalam mendorong perubahan tersebut, dengan melibatkan ASN, satuan pendidikan, hingga masyarakat luas.
Transformasi ini juga menekankan pentingnya adaptasi birokrasi agar lebih efisien, tanpa mengorbankan mutu layanan pendidikan.
WFH hingga Transportasi Publik Jadi Bagian Perubahan
Dalam implementasinya, kebijakan ini mencakup sejumlah langkah konkret, seperti penerapan Work From Home (WFH) bagi ASN satu hari dalam sepekan, yakni setiap Jumat.
Selain itu, pemerintah juga mendorong efisiensi penggunaan kendaraan dinas serta pengurangan perjalanan dinas yang tidak mendesak.
Gerakan hemat energi turut diperluas melalui optimalisasi penggunaan transportasi publik serta pengembangan kegiatan seperti Car Free Day di berbagai daerah.
Menurut Mu’ti, kebijakan WFH bukan berarti ASN libur, melainkan tetap bekerja penuh tanggung jawab dari lokasi berbeda dengan layanan yang tetap berjalan.
Di lingkungan pendidikan, satuan sekolah didorong untuk membangun kebiasaan hemat energi sebagai praktik sehari-hari yang bisa dicontoh peserta didik.
Ia juga mengajak masyarakat untuk mulai beralih ke moda transportasi yang lebih ramah lingkungan, seperti menggunakan kendaraan umum, bersepeda, atau berjalan kaki saat beraktivitas ke sekolah.
Peran orang tua juga disorot, terutama dalam mengurangi penggunaan kendaraan pribadi secara berlebihan saat mengantar anak.
Selain itu, pemerintah daerah didorong untuk menyediakan infrastruktur pendukung, seperti jalur sepeda, guna memperkuat implementasi gerakan hemat energi di masyarakat.
Mu’ti menegaskan bahwa perubahan pola kerja dan gaya hidup ini merupakan bagian dari upaya kolektif membangun masa depan yang lebih adaptif dan berkelanjutan, tanpa mengurangi kualitas layanan publik di sektor pendidikan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Antara


















































