Jakarta, CNBC Indonesia - Serangan bersenjata Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran telah mulai mengganggu arus perdagangan dunia dengan negara-negara Timur Tengah, khususnya yang melalui Selat Hormuz karena telah ditutup oleh Iran.
Para pakar dan pelaku pasar energi bahkan memperkirakan, akibat peperangan yang menganggu jalur perdagangan dunia itu, harga minyak mentah dunia bisa tembus di level US$100 per barel. Mempertimbangkan negara-negara kawasan sebagai salah satu penghasil migas utama dunia.
Sebagai negara net importir minyak, perang AS-Israel dan Iran itu berpotensi mengganggu perekonomian Indonesia. Terutama melalui efek gejolak harga minyak mentah dan gas dunia.
Apalagi, Badan Pusat Statistik (BPS) juga mencatat, ratusan juta dolar AS bahkan Indonesia keluarkan tiap bulannya untuk mengimpor migas dari negara-negara kawasan Timur Tengah yang kini tengah dalam gejolak itu.
"Tapi untuk mengetahui pengaruh konflik Timur Tengah, ini tentunya memerlukan kajian yang lebih lanjut," kata Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono saat konferensi pers di Kantor Pusat BPS, Jakarta, Senin (2/3/2026).
Perdagangan migas Indonesia terbesar dengan negara-negara kawasan Timur Tengah, terbesar ialah dengan Arab Saudi. Menurut data BPS, pada Januari 2026 impor migas Indonesia sebesar US$ 267,4 juta dengan Arab Saudi, kontribusinya sebesar 8,44% terhadap total impor migas.
"Lalu, dengan Uni Emirat Arab (UEA) impor migasnya itu sebesar US$ 200,6 juta pada Januari 2026, dengan kontribusinya 6,34%, Qatar US$ 1,8 juta dengan kontribusi 2,58%, dan Mesir US$ 73,4 juta dengan kontribusi 2,32%, serta Oman US$ 67,9 juta dengan share 2,14%," ucap Ateng.
(arj/haa)
Addsource on Google


















































