Sebelum Meninggal, Den Baguse Ngarsa Sempat Ngangkring Bersama Kakak

3 hours ago 4

Sebelum Meninggal, Den Baguse Ngarsa Sempat Ngangkring Bersama Kakak

Warga mulai mempersiapkan tenda dan kursi di rumah duka Denbaguse Ngarsa di Mantrijeron, Jogja, pada Senin (20/9/2026)./Harian Jogja-Stefani Yulindriani

Harianjogja.com, JOGJA—Seniman teater Susilo Nugroho atau yang dikenal sebagai Den Baguse Ngarsa dikenang keluarga sebagai sosok yang serius dalam keseharian, tetapi tetap memiliki sisi hangat dalam pergaulan. Sehari sebelum ditemukan meninggal dunia di rumahnya di Mantrijeron, Kota Jogja, Senin (21/9/2026), Susilo masih beraktivitas seperti biasa dan sempat berbincang bersama kakaknya di angkringan depan rumah.

Kakak Susilo, Sukanti, mengatakan keluarga awalnya tidak mengetahui kondisi Susilo hingga Senin sore. Pasalnya, Susilo memang memiliki kebiasaan tidur sekitar tengah malam atau bahkan lewat tengah malam sehingga keluarga tidak mengetahui secara pasti kapan terakhir kali dia tidur.

"Yang jelas kami semua tidak ada yang tahu. Susilo itu kalau tidur biasanya sekitar tengah malam atau lewat tengah malam. Jadi Susilo tidur jam berapa tadi malam juga enggak tahu. Tapi sampai sore kok enggak bangun-bangun," ujarnya, Senin (21/9/2026).

Keluarga Tak Tahu Kondisi Susilo

Sukanti menuturkan keluarga kemudian meminta bantuan Ketua RW setempat untuk mengecek kondisi Susilo. Ketua RW tersebut diketahui memiliki latar belakang tenaga medis dan pernah bekerja sebagai perawat.

Dari pemeriksaan awal secara visual, Susilo disebut sudah tidak menunjukkan tanda-tanda kehidupan. Namun, Ketua RW tidak berani memastikan kondisi tersebut dan menyarankan agar Susilo diperiksa di rumah sakit.

Menurut Sukanti, selama ini Susilo dikenal cukup menjaga pola makan dan jarang mengeluhkan sakit. Bahkan, di tengah keluarga mereka yang banyak memiliki riwayat diabetes, Susilo justru dinilai sebagai salah satu yang paling sehat.

"Dia itu makan juga hati-hati. Selama ini kalau makan tidak pernah makan nasi. Nasimya diganti jagung. Makan juga enggak banyak, berat badan juga normal-normal saja. Tidak pernah mengeluh apa-apa," katanya.

Kondisi tersebut membuat keluarga tidak menyangka Susilo akan ditemukan meninggal dunia. Terlebih, sehari sebelum meninggal, aktivitas Susilo masih berlangsung seperti biasa.

Malam Sebelum Meninggal Sempat Ngangkring

Sukanti mengatakan dirinya masih sempat bertemu dan berbincang dengan Susilo. Bahkan, dalam dua hari sebelum Susilo ditemukan meninggal, keduanya beberapa kali bertemu di angkringan.

"Kalau dua malam sebelumnya sama saya jagongan, malah sehari ketemu dua kali. Sore ngangkring terus pulang, terus malamnya ngangkring lagi, enggak apa-apa," ujarnya.

Namun, Sukanti sempat mendengar bahwa Susilo mengeluhkan bagian bahunya pada malam sebelum meninggal. Seorang tetangga yang dekat dengan Susilo disebut sempat memijat bagian bahu tersebut.

Tetangga itu juga sempat menyarankan agar Susilo dibawa ke rumah sakit. Namun, Susilo menolak karena merasa kondisinya tidak serius.

"Katanya tadi malam ada tetangga yang dekat dengan dia, mengeluh bahunya sakit terus dipijit-pijit. Terus mau dibawa ke rumah sakit, dia bilang, 'Enggak mau, enggak apa-apa kok.' Cuma gitu saja," katanya.

Warisan Seni dari Keluarga

Di mata Sukanti, Susilo merupakan sosok yang serius ketika berada di lingkungan keluarga. Keduanya juga memiliki pilihan berbeda dalam menjalani dunia seni. Sukanti menekuni musik, sedangkan Susilo memilih teater sebagai jalan keseniannya.

Menurut Sukanti, kemampuan seni tersebut tidak terlepas dari lingkungan keluarga mereka. Kakek mereka dikenal memiliki kemampuan menulis aksara Jawa dengan indah serta menguasai macapatan. Sementara ayah mereka juga menekuni macapatan.

"Susilo itu teater, saya senang musik. Hanya itu. Saya musik, dia teater," katanya.

Susilo selama hidupnya dikenal melalui kiprahnya di dunia teater. Bagi keluarga, pilihan tersebut menjadi bagian dari perjalanan keseniannya yang berbeda dari sang kakak.

Sukanti menambahkan Susilo memiliki dua anak perempuan yang kini telah berkeluarga. Salah satu anak tinggal di Jogja, sedangkan anak lainnya tinggal di Semarang.

Hingga Senin, keluarga belum menentukan lokasi pemakaman Susilo. Sukanti mengatakan keputusan tersebut masih menunggu kondisi istri Susilo yang masih berduka.

"Belum tahu. Kayaknya istrinya masih belum stabil. Kita nunggu kalau sudah agak tenang dulu kita diajak bicara," katanya.

Kepergian Susilo meninggalkan duka bagi keluarga. Namun, dari cerita Sukanti, sosok Den Baguse Ngarso tidak hanya dikenang melalui kiprahnya di dunia teater, tetapi juga sebagai anggota keluarga yang serius, menjaga pola makan, jarang mengeluhkan sakit, dan masih menjalani aktivitas bersama orang-orang terdekat hingga sehari sebelum meninggal dunia.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Read Entire Article
Ekonomi | Asset | Lokal | Tech|