Jumali Senin, 21 September 2026 18:47 WIB

Artificial Intelligence alias kecerdasan buatan - Ilustrasi/Freepik
Harianjogja.com, JOGJA—Perusahaan semakin mendorong penggunaan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) di tempat kerja. Namun, sebagian karyawan masih belum memahami secara jelas alasan teknologi tersebut diterapkan dan bagaimana penggunaannya berkaitan dengan tujuan perusahaan.
Laporan Culture Amp bertajuk How Employees Really Feel About AI at Work menunjukkan 85% karyawan menyatakan organisasinya aktif mendorong eksplorasi dan eksperimen menggunakan AI. Di sisi lain, laporan tersebut mencatat 42% karyawan belum mengetahui alasan AI digunakan di perusahaan mereka.
Riset itu mengumpulkan data dari sekitar 112.000 karyawan di 123 organisasi di berbagai negara. Temuannya mengindikasikan adanya kesenjangan antara penerapan AI di tingkat perusahaan dan penjelasan yang diterima karyawan dari para pemimpin maupun manajer.
Karyawan Merasakan Manfaat AI, tetapi Masih Membutuhkan Arahan
Sejumlah karyawan melaporkan manfaat penggunaan AI, terutama dalam hal produktivitas dan motivasi. Meski demikian, mereka masih membutuhkan penjelasan mengenai tujuan penerapan teknologi tersebut, perubahan yang mungkin terjadi pada pekerjaan, serta keterampilan yang akan tetap dibutuhkan.
Amy Lavoie, VP of People Science di Culture Amp, mengatakan temuan itu tidak serta-merta menunjukkan bahwa karyawan menolak perubahan.
“Karyawan mengatakan mereka memahami risikonya, mereka menggunakan alat-alat tersebut, dan mereka merasa lebih produktif. Itu bukan tenaga kerja yang menolak perubahan. Itu tenaga kerja yang sudah melakukan bagiannya dan sekarang menunggu pimpinan melakukan bagian mereka,” ujar Lavoie, dikutip dari TechRadar, Senin (21/9/2026).
Data Culture Amp juga menunjukkan 71% karyawan merasa penggunaan AI membantu mereka menjadi lebih produktif. Angka tersebut meningkat menjadi 93% di antara kelompok pengguna AI paling intensif. Namun, manfaat yang dirasakan itu belum otomatis diikuti penjelasan yang memadai mengenai arah penerapan AI di organisasi.
Strategi AI Perusahaan Masih Berkembang
Lavoie menjelaskan, sebagian ketidakjelasan dapat berkaitan dengan strategi AI perusahaan yang masih disusun. Manajemen belum tentu memiliki kepastian mengenai peran pekerjaan yang akan berubah, keterampilan yang akan tetap relevan, maupun bentuk jalur karier karyawan pada masa mendatang.
“Kita belum tahu dengan pasti peran apa yang akan dibentuk ulang oleh AI, keterampilan apa yang tetap bernilai, atau seperti apa jalur karier tiga tahun ke depan,” kata Lavoie.
Situasi tersebut dapat membuat sebagian pemimpin memilih berhati-hati dalam menyampaikan rencana. Mereka mungkin khawatir informasi yang disampaikan sekarang akan berubah seiring perkembangan teknologi dan kebijakan perusahaan.
Namun, menurut Lavoie, perusahaan tidak harus menunggu sampai seluruh rencana benar-benar matang untuk berkomunikasi dengan karyawan. Pemimpin dapat menjelaskan bahwa strategi masih berkembang sambil terus memberikan pembaruan mengenai arah dan tujuan penggunaan AI.
“Kepastian bukanlah yang dibutuhkan karyawan dari Anda saat ini. Keterbukaanlah yang dibutuhkan,” ujarnya.
Kesenjangan Komunikasi Menjadi Perhatian
Laporan Culture Amp turut mencatat bahwa 58% karyawan merasa pemimpin mereka telah menjelaskan secara jelas bagaimana AI akan digunakan untuk mencapai tujuan perusahaan. Sementara itu, 60% menyatakan manajer mereka memberikan contoh bagaimana AI dapat mendukung sasaran atau alur kerja.
Temuan tersebut memperlihatkan bahwa dorongan untuk menggunakan AI belum selalu disertai panduan yang dipahami karyawan. Selain penjelasan tentang manfaat teknologi, komunikasi juga berkaitan dengan bagaimana AI akan diterapkan dalam pekerjaan sehari-hari dan apa artinya bagi pengembangan karier.
Bagi perusahaan, tantangannya bukan hanya memperluas penggunaan AI, tetapi juga memastikan karyawan memahami konteks penerapannya. Penjelasan yang terbuka dan berkelanjutan dapat membantu pekerja mengetahui apa yang sudah diputuskan, bagian mana yang masih dikembangkan, dan bagaimana mereka akan memperoleh informasi selanjutnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Jumali Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online

















































