Sandwich Generation: Realitas Sosial dan Tantangan Kehidupan Keluarga Modern

4 hours ago 5

Image Muhammad Ferdi

Agama | 2026-06-21 04:18:27

Sumber: cakrawala.ac.id

Fenomena sandwich generation semakin banyak ditemukan dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Istilah ini merujuk pada individu usia produktif yang harus menanggung kebutuhan dua generasi sekaligus, yaitu orang tua yang telah lanjut usia dan anak-anak yang masih menjadi tanggungan. Kondisi ini muncul karena berbagai faktor, seperti meningkatnya biaya hidup, bertambahnya angka harapan hidup, keterbatasan dana pensiun, serta tuntutan pendidikan anak yang semakin tinggi. Akibatnya, banyak individu mengalami tekanan ekonomi dan psikologis karena harus memenuhi berbagai kebutuhan keluarga secara bersamaan.

Di Indonesia, fenomena ini menjadi semakin relevan karena budaya kekeluargaan yang kuat masih menempatkan anak sebagai pihak yang bertanggung jawab membantu orang tua pada masa tua. Di sisi lain, individu tersebut juga memiliki kewajiban untuk memenuhi kebutuhan pasangan dan anak-anaknya. Tidak sedikit anggota sandwich generation yang harus bekerja lebih keras, menunda kebutuhan pribadi, bahkan mengalami stres akibat beban tanggung jawab yang berlapis. Oleh karena itu, fenomena ini tidak hanya menjadi persoalan ekonomi, tetapi juga menyangkut kesejahteraan keluarga dan kualitas kehidupan masyarakat.

Dari perspektif fikih, fenomena sandwich generation penting untuk dikaji karena berkaitan dengan konsep nafkah, tanggung jawab keluarga, dan kewajiban berbakti kepada orang tua (birrul walidain). Fikih tidak hanya membahas persoalan halal dan haram, tetapi juga memberikan panduan dalam menyelesaikan persoalan sosial yang berkembang di masyarakat. Dengan demikian, kajian fikih dapat menjadi landasan untuk memahami bagaimana Islam memandang keseimbangan antara kewajiban terhadap orang tua dan tanggung jawab terhadap keluarga inti.

Sandwich Generation dalam Perspektif Al-Qur'an dan Hadis

Islam mengajarkan pentingnya berbuat baik kepada orang tua sebagai salah satu bentuk pengabdian kepada Allah SWT. Hal tersebut ditegaskan dalam firman Allah:

وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا

"Dan Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada kedua orang tua." (QS. Al-Isra': 23)

Ayat ini menunjukkan bahwa berbuat baik kepada orang tua memiliki kedudukan yang sangat tinggi dalam Islam. Dalam konteks sandwich generation, membantu kebutuhan orang tua yang sudah lanjut usia merupakan salah satu bentuk implementasi dari perintah tersebut. Namun, Islam juga mengajarkan bahwa setiap kewajiban harus dilaksanakan sesuai kemampuan dan tidak menimbulkan kemudaratan bagi diri sendiri maupun keluarga.

Selain itu, Rasulullah SAW bersabda:

خَيْرُ الصَّدَقَةِ مَا كَانَ عَنْ ظَهْرِ غِنًى، وَابْدَأْ بِمَنْ تَعُوْلُ

"Sebaik-baik sedekah adalah sedekah yang dikeluarkan dari kelebihan harta (setelah terpenuhinya kebutuhan), dan mulailah dengan orang yang menjadi tanggunganmu." (HR. Bukhari dan Muslim).

Dalam konteks sandwich generation, hadis ini dapat dijadikan landasan bahwa kewajiban membantu orang tua harus dilaksanakan secara proporsional dan sesuai kemampuan. Islam tidak menghendaki seseorang terbebani secara berlebihan hingga mengorbankan kesejahteraan pasangan dan anak-anaknya. Oleh karena itu, pengelolaan nafkah dan pembagian tanggung jawab keluarga perlu dilakukan secara bijaksana agar tercapai kemaslahatan bagi seluruh anggota keluarga.

Menurut penulis, fenomena sandwich generation merupakan salah satu tantangan sosial yang lahir dari perubahan struktur kehidupan modern. Meningkatnya kebutuhan ekonomi, biaya pendidikan yang mahal, serta kurangnya kesiapan finansial pada masa tua menyebabkan banyak keluarga bergantung pada generasi produktif. Akibatnya, kelompok ini sering kali menghadapi tekanan yang tidak hanya bersifat finansial, tetapi juga emosional dan psikologis.

Jika dilihat dari perspektif fikih kontemporer, kewajiban membantu orang tua memang merupakan bagian dari ajaran Islam. Akan tetapi, kewajiban tersebut tidak boleh dipahami secara sempit sehingga mengorbankan hak-hak keluarga inti. Dalam hukum Islam, pemenuhan nafkah kepada istri dan anak juga merupakan kewajiban yang harus diperhatikan. Oleh karena itu, diperlukan keseimbangan dalam menentukan prioritas dan pengelolaan keuangan keluarga.

Fenomena sandwich generation juga menunjukkan bahwa persoalan keluarga tidak dapat diselesaikan hanya dengan pendekatan hukum normatif. Dibutuhkan pendekatan yang lebih komprehensif dengan mempertimbangkan aspek sosial, ekonomi, dan psikologis. Dalam konteks ini, fikih memiliki peran penting karena tidak hanya berorientasi pada aturan, tetapi juga pada kemaslahatan (maslahah). Prinsip kemaslahatan mengajarkan bahwa setiap keputusan harus diarahkan pada terciptanya kebaikan dan pencegahan kemudaratan bagi seluruh anggota keluarga.

Menurut analisis penulis, salah satu akar masalah sandwich generation adalah rendahnya literasi keuangan dalam masyarakat. Banyak keluarga yang belum memiliki perencanaan jangka panjang terkait dana pendidikan, tabungan darurat, maupun dana pensiun. Akibatnya, ketika memasuki usia lanjut, orang tua masih bergantung pada anak-anak mereka. Di sisi lain, anak-anak yang sedang membangun keluarga juga menghadapi berbagai kebutuhan yang tidak sedikit. Kondisi ini menunjukkan pentingnya perencanaan keuangan yang matang sebagai bentuk ikhtiar dalam menjaga kesejahteraan keluarga.

Selain itu, budaya gotong royong dalam keluarga besar perlu diperkuat. Tanggung jawab terhadap orang tua seharusnya tidak dibebankan kepada satu orang anak saja, tetapi menjadi tanggung jawab bersama sesuai kemampuan masing-masing. Dengan demikian, beban yang ditanggung tidak terlalu berat dan hubungan keluarga dapat tetap harmonis. Fenomena sandwich generation merupakan realitas sosial yang semakin banyak ditemukan dalam kehidupan masyarakat modern. Individu yang berada dalam posisi ini menghadapi tanggung jawab ganda untuk memenuhi kebutuhan orang tua sekaligus membiayai keluarga dan anak-anaknya. Kondisi tersebut sering menimbulkan tekanan ekonomi, psikologis, dan sosial yang cukup besar.

Dari perspektif Islam, fenomena ini berkaitan dengan dua prinsip penting, yaitu kewajiban berbakti kepada orang tua dan tanggung jawab terhadap keluarga. Al-Qur'an dan hadis mengajarkan bahwa kedua kewajiban tersebut harus dijalankan secara seimbang dan penuh tanggung jawab. Islam tidak menghendaki seseorang terbebani secara berlebihan hingga mengabaikan hak dirinya maupun keluarganya.

Sebagai solusi, diperlukan peningkatan literasi keuangan, perencanaan dana pensiun sejak usia produktif, pembagian tanggung jawab yang adil di antara anggota keluarga, serta penguatan nilai musyawarah dalam keluarga. Selain itu, pemahaman fikih yang berorientasi pada kemaslahatan perlu dikembangkan agar mampu menjawab berbagai persoalan keluarga modern. Dengan demikian, fikih tidak hanya menjadi pedoman hukum, tetapi juga menjadi solusi yang relevan dalam menghadapi tantangan kehidupan kontemporer, termasuk fenomena sandwich generation.

DAFTAR PUSTAKA

Badan Pusat Statistik (BPS). (2026, Januari 18). Beban berat generasi sandwich di Indonesia. https://surabayakota.bps.go.id/en/news/2026/01/18/802/beban-berat-generasi-sandwich-indonesia.

Katadata. (2024). Dari generasi sandwich ke tekanan ekonomi kelas menengah. https://katadata.co.id/indepth/opini/6a006358ee2a2/dari-generasi-sandwich-ke-ayam-geprek-di-tengah-ekonomi-yang-sulit

Kurniawan, N. R. (2024). Analisis terhadap Fenomena Generasi Sandwich Menurut Perspektif Islam. Al-Fatawa: Jurnal Hukum Islam dan Pranata Sosial, 1 (1), 49-64. https://journal.syamilahpublishing.com/fatawa/article/view/133

Nensy, A. S., Hardani, S., & Arisman. (2025). Implementasi Pemenuhan Nafkah pada Keluarga Generasi Sandwich Perspektif Sosiologi Keluarga. Khulasah: Jurnal Kajian Islam, 7 (2), 85-104.

Roring, B. W., & Simanjuntak, E. J. (2024). Kepuasan Hidup Generasi Sandwich di Indonesia. Jurnal Ilmu Keluarga dan Konsumen (IPB), 17 (3), 233-246.

Sa’diyah, H., Wijaya, S. A., & Sakinah, A. (2026). Fenomena Sandwich Generation dan Dampaknya terhadap Kesejahteraan Tenaga Kerja di Indonesia. Jurnal Ekonomi Indonesia, 2 (1), 964-972.

Safitri, D. (2025). Ketahanan Generasi Sandwich: Perspektif Hukum Keluarga Islam dalam Mengatasi Tanggung Jawab Ganda. Jurnal Mediasas: Media Ilmu Syari'ah Dan Ahwal Al-Syakhsiyyah, 8 (3), 624–635.

Supriatna, A., Islamy, M. R. F., dkk. (2022). Menjelaskan Fenomena Generasi Sandwich dalam Dimensi Modernitas. Jurnal Studi Sosial Dan Politik, 6 (1), 101-111.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Read Entire Article
Ekonomi | Asset | Lokal | Tech|