Jakarta, CNBC Indonesia - Pemerintah Presiden Rusia Vladimir Putin resmi mengecam tindakan militer Amerika Serikat (AS) dan Israel terhadap Iran. Melalui Kementerian Luar Negeri, Rusia menyebut tindakan kedua negara tersebut sebagai "agresi ilegal".
Hal ini terkait serangan baru-baru ini yang infrastruktur sipil. Bukan hanya itu, fasilitas nuklir yang berada di bawah pengawasan internasional juga tak luput dari serangan.
Salah satunya, serangan berulang terhadap Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) Bushehr yang menimbulkan korban jiwa. Rusia menilai situasi ini meningkatkan risiko bencana radiologis yang bisa lebih parah daripada tragedi Chernobyl.
"Konflik ini telah menewaskan ribuan warga sipil, termasuk perempuan dan anak-anak, serta menimbulkan penderitaan yang meluas," tulis pernyataan resmi Rusia dikutip laman Russia Today (RT), Selasa (7/4/2026).
"Sekolah, rumah sakit, dan situs warisan budaya telah hancur, sementara misi diplomatik dan konsuler diserang, yang melanggar Konvensi Wina," tambahnya.
Hal sama juga diungkap Juru Bicara Kremlin Dmitry Peskov. Ia menyatakan bahwa perang yang melibatkan AS dan Israel ini telah membuat seluruh kawasan Timur Tengah membara.
Menurutnya dampak negatif dari aksi AS dan Israel pun mulai meluas ke wilayah geografis yang lebih besar. Bahkan, ini mengganggu stabilitas global.
"Ketegangan terus meningkat, dengan hampir seluruh kawasan terbakar. Ini semua adalah konsekuensi berbahaya dan sangat negatif dari agresi yang dilancarkan terhadap Iran," katanya.
"Geografi konflik telah meluas, dan sekarang kita melihat hasilnya, termasuk dampak yang sangat negatif bagi ekonomi global," tambah Peskov.
Ia pun mencatat bahwa operasi militer ini telah mengganggu keamanan energi dan pangan dunia akibat pemblokiran rute logistik utama. Para ahli memperingatkan adanya perlambatan ekonomi dan kenaikan inflasi pada negara-negara yang rentan.
"Rusia telah memperingatkan sejak awal bahwa konsekuensi seperti itu tidak dapat dihindari," jelasnya Peskov menekankan peringatan dini dari pihak Moskow.
Perlu diketahui, konflik terbuka ini bermula sejak 28 Februari saat As dan Israel menyerang Teheran dan menewaskan Ayatollah Ali Khamenei. Ini kemudian memicu penutupan Selat Hormuz, perairan penting bagi pengiriman minyak dunia.
Perang meluas setelah Iran merespons serangan Washington dan Yerusalem Barat dengan menghujani pangkalan AS di Timur Tengah serta wilayah Israel menggunakan rudal dan drone. Keterlibatan aktor regional lain seperti Hezbollah di Lebanon, milisi Irak, hingga kelompok Houthi di Yaman semakin memperumit situasi keamanan di jalur perdagangan laut.
Dampaknya, guncangan energi global terjadi seketika dengan lonjakan harga minyak dan gas yang membebani konsumen di seluruh dunia. Kelangkaan bahkan terjadi di mana-mana karena minimnya pasokan.
Sementara itu, Presiden AS Donald Trump mengeluarkan pernyataan keras melalui media sosial yang menuntut Teheran untuk segera membuka Selat Hormuz. Trump mengancam akan menghancurkan jembatan serta pembangkit listrik Iran jika tuntutan tersebut tidak dipenuhi hingga hari Selasa.
"Buka selat itu, atau kalian akan hidup dalam neraka," tulis Donald Trump dalam unggahan media sosialnya.
Pihak Kremlin sendiri enggan memberikan komentar lebih lanjut mengenai gaya bahasa yang digunakan oleh Trump dalam ancaman tersebut. Peskov menegaskan bahwa fokus utama saat ini adalah dampak nyata dari meluasnya konflik di lapangan.
Rusia kini mendesak adanya penghentian permusuhan segera demi menghindari situasi yang semakin tidak terkendali. Moskow menyambut baik upaya mediasi dari Pakistan, Turki, dan China, serta mendukung seruan Sekretaris Jenderal PBB untuk menghentikan pertempuran.
(tps/sef)
[Gambas:Video CNBC]

















































