Iran Respons Ancaman Trump Rebut Negaranya Selasa Malam, Teriak Ini

8 hours ago 2

Jakarta, CNBC Indonesia - Pemerintah Iran secara resmi menolak usulan gencatan senjata sementara dan menuntut pengakhiran perang secara permanen dengan Amerika Serikat (AS) serta Israel. Mengutip Reuters, Teheran menegaskan tidak akan tunduk pada tekanan untuk membuka kembali Selat Hormuz kecuali tuntutan mereka, termasuk pencabutan sanksi dan pembangunan kembali infrastruktur, dipenuhi sepenuhnya.

Kantor berita resmi IRNA melaporkan bahwa respons Iran terdiri dari 10 klausul mendalam yang mencakup protokol jalur aman di Selat Hormuz serta penghentian konflik di seluruh kawasan. Pihak Iran menekankan bahwa pengakhiran perang secara menyeluruh adalah harga mati dan mereka tidak akan menyerahkan kendali atas jalur energi global tersebut dengan mudah.

Komando militer tertinggi Iran melalui juru bicara Ebrahim Zolfaqari membalas ultimatum Washington dengan menyebut pernyataan Presiden AS Donald Trump sebagai sebuah delusi besar. Zolfaqari menegaskan dalam siaran televisi negara bahwa rakyat Iran tidak akan gentar menghadapi ancaman militer yang dilontarkan oleh pihak Gedung Putih.

"Trump sedang berhalusinasi. Peringatan tersebut adalah retorika yang kasar, sombong, dan ancaman yang tidak berdasar," tegas Zolfaqari, dikutip Selasa (7/4/2026).

Menyikapi ancaman serangan fisik, Wakil Menteri Olahraga Iran, Alireza Rahimi, menyerukan aksi pembentukan rantai manusia oleh para atlet dan seniman di berbagai pembangkit listrik pada Selasa. Rahimi melalui akun media sosial X menegaskan bahwa rakyat akan bersatu melindungi infrastruktur publik dari potensi serangan udara yang ia sebut sebagai pelanggaran hukum internasional.

"Kami akan berdiri berpegangan tangan untuk mengatakan bahwa menyerang infrastruktur publik adalah kejahatan perang," tulis Rahimi.

Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araqchi, turut bersumpah akan melakukan pembalasan setimpal setelah serangan udara menghantam Universitas Teknologi Sharif di Teheran pada Senin pagi. Araqchi memperingatkan bahwa kekuatan militer Iran akan segera diperlihatkan sebagai respons atas hancurnya fasilitas pendidikan dan pusat data kecerdasan buatan di universitas tersebut.

"Aggressors akan melihat kekuatan kami sebagai respons terhadap pengeboman Sharif," kata Araqchi.

Trump sendiri langsung menolak tanggapan Iran dan memberikan tenggat waktu final hingga Selasa pukul 20.00 waktu setempat bagi Teheran untuk mencapai kesepakatan. Trump mengancam akan menghancurkan setiap jembatan dan pembangkit listrik di Iran jika negara tersebut gagal memenuhi batas waktu yang telah ditentukan.

"Iran bisa saja tamat dalam satu malam, dan malam itu mungkin adalah besok malam. Tanpa kesepakatan, setiap jembatan di Iran akan hancur pada tengah malam hari Rabu dan setiap pembangkit listrik di Iran akan berhenti beroperasi, terbakar, meledak, dan tidak akan pernah bisa digunakan lagi," ujar Trump.

Sikap keras ini didukung oleh Menteri Pertahanan (PM) Israel, Israel Katz, yang mengancam akan melenyapkan seluruh infrastruktur Iran serta memburu para pemimpinnya satu per satu. Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, mengonfirmasi bahwa serangan terhadap fasilitas petrokimia di Iran selatan adalah upaya nyata untuk memutus sumber pendanaan militer negara tersebut.

"Serangan itu adalah bagian dari upaya membongkar mesin uang Garda Revolusi Iran," tegas Netanyahu.

Menteri Pertahanan AS, Pete Hegseth, menambahkan bahwa intensitas serangan udara pada Selasa akan menjadi yang paling masif sejak pecahnya perang enam minggu lalu. Hegseth memprediksi eskalasi akan terus meningkat tajam seiring dengan berakhirnya tenggat waktu yang diberikan oleh Presiden Trump kepada Teheran.

"Hari ini akan menjadi hari dengan serangan terbanyak sejak dimulainya perang, dan hari Selasa akan melihat lebih banyak lagi," kata Hegseth.

(tps/sef) [Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Ekonomi | Asset | Lokal | Tech|