Jakarta, CNBC Indonesia — Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memastikan dampak pelemahan nilai tukar rupiah terhadap sektor jasa keuangan, khususnya industri perbankan, masih berada dalam kondisi terkendali. OJK menilai permodalan perbankan yang tetap tebal menjadi bantalan utama dalam menghadapi risiko gejolak nilai tukar.
Ketua Dewan Komisioner OJK, Friderica Widyasari Dewi mengatakan ketahanan sektor perbankan terhadap tekanan nilai tukar tercermin dari rasio kecukupan modal atau capital adequacy ratio (CAR) yang masih berada di level tinggi.
"Kalau terkait pergerakan nilai tukar rupiah, dampak langsung ke sektor jasa keuangan khususnya perbankan terkendali. Dari mana lihatnya? CAR solid per April masih 23,97%, sehingga ini masih memberikan room yang cukup dalam menyerap berbagai potensi risiko," ujar Friderica dalam konferensi pers RDK OJK, dikutip Jumat (5/6/2026).
Selain itu, OJK juga mencermati posisi devisa neto (PDN) perbankan yang dinilai masih aman. Menurut Friderica, posisi tersebut secara konsisten masih jauh di bawah batas maksimum regulator sebesar 20%.
Meski begitu, OJK tetap meningkatkan kewaspadaan terhadap berbagai jalur transmisi risiko yang dapat muncul apabila tekanan terhadap rupiah berlangsung lebih lama. Salah satu perhatian utama adalah sektor usaha dengan ketergantungan tinggi terhadap impor.
OJK menilai pelemahan rupiah yang disertai kenaikan harga berpotensi memengaruhi kemampuan bayar debitur, terutama bagi pelaku usaha yang memiliki eksposur besar terhadap impor.
"Kami terus mewaspadai berbagai kanal transmisi risiko. Kami melihat eksposur tekanan terhadap usaha yang eksposur impornya tinggi, termasuk potensi penurunan kemampuan bayar debitur apabila kondisi ini terus berlanjut," ujar Friderica.
Sebagai langkah mitigasi, OJK mengaku akan terus memperketat pemantauan terhadap aktivitas valuta asing di industri perbankan, termasuk memastikan kecukupan likuiditas valas sektor jasa keuangan tetap memadai.
"Kami akan memantau aktivitas valas perbankan, kecukupan valas sektor jasa keuangan, serta kepatuhan secara intensif melalui supervisory dialogue sehingga risiko likuiditas tetap berjalan memadai," katanya.
Tak hanya itu, OJK juga menegaskan akan terus memperkuat koordinasi dengan Bank Indonesia (BI) guna menjaga kecukupan likuiditas valuta asing di sistem keuangan.
"Kami akan mempererat koordinasi dengan BI selaku otoritas moneter untuk menjaga kecukupan likuiditas valas di sistem keuangan tetap terjaga, mengingat stabilitas rupiah adalah kepentingan bersama sektor keuangan dan seluruh bangsa Indonesia," pungkasnya.
Sementara itu, nilai tukar rupiah berhasil berbalik menguat tipis terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada penutupan perdagangan Jumat (5/6/2026), setelah sepanjang hari bergerak volatil di area Rp18.000/US$.
Melansir data Refinitiv, rupiah ditutup menguat 0,06% ke level Rp18.010/US$.
Penguatan ini menjadi sedikit napas bagi mata uang Garuda setelah pada perdagangan sebelumnya, Kamis (4/6/2026), rupiah ditutup melemah 0,45% ke level Rp18.020/US$. Posisi tersebut merupakan level terlemah sepanjang sejarah rupiah terhadap dolar AS.
Meski berakhir menguat, pergerakan rupiah sepanjang perdagangan hari ini masih berada dalam tekanan. Rupiah sempat dibuka melemah 0,17% ke level Rp18.050/US$, sebelum bergerak cukup volatil di rentang Rp18.000-Rp18.050/US$ sepanjang hari.
Sementara itu, indeks dolar AS (DXY), yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama dunia, per pukul 15.00 WIB terpantau masih bergerak stabil di level 99,258.
(mkh/mkh)
Addsource on Google
















































