Daftar Pipeline IPO Berkurang Jadi 12 Calon Emiten, Ini Kata Bos BEI

1 hour ago 2

Jakarta, CNBC Indonesia - Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat, perusahaan yang melaksanakan pencatatan saham perdana (Initial Public Offering/IPO) sepanjang tahun ini hanya 1 perusahaan dengan penghimpunan dana sebesar Rp 0,30 triliun atau Rp 500 miliar.

Direktur Penilaian Perusahaan BEI I Gede Nyoman Yetna mengungkapkan, jumlah perusahaan yang antre untuk melaksanakan IPO turun jadi 12 perusahaan dari sebelumnya sebanyak 15 perusahaan.

"Hingga saat ini, terdapat 12 perusahaan dalam pipeline pencatatan saham BEI," ujarnya kepada wartawan, Senin (8/6/2026).

Nyoman menjelaskan, penurunan calon emiten yang akan melantai di pasar modal Indonesia karena ada perbaikan atau pembaharuan pada laporan keuangan.

"Ada yg revisi laporan keuangan menggunakan LK (laporan keuangan) terbaru, ada yang masih membutuhkan kelengkapan dokumen, ada yang belum disetujui," jelasnya.

Sebagai informasi, klasifikasi aset perusahaan yang saat ini berada dalam pipeline antara lain, 4 perusahaan aset skala menengah beraset antara Rp50 miliar hingga Rp250 miliar, dan 8 perusahaan aset skala besar beraset di atas Rp250 miliar.

Adapun rincian sektornya antara lain, 3 perusahaan di sektor konsumer kritikal, 2 perusahaan di sektor konsumer non kritikal, 1 perusahaan di sektor keuangan, 3 perusahaan di sektor kesehatan, 2 perusahaan di sektor infrastruktur, dan 1 perusahaan di sektor teknologi.

Sebelumnya; Bursa Efek Indonesia (BEI) masih optimis target perusahaan yang mencatatkan sahamnya di pasar modal melalui penyelenggaraan pencatatan saham perdana (Initial Public Offering/IPO) masih sesuai target.

Sebagai informasi, BEI menargetkan IPO tahun 2026 sebanyak 50 emiten baru. Jumlahnya hampir dua kali lipat dari realisasi tahun lalu yang hanya sebanyak 26 emiten.

"Oh sampai saat ini kita masih sesuai dengan target. Nanti kalaupun ada perubahan nanti kami sampaikan," kata Direktur Utama BEI Jeffrey Hendrik saat ditemui di gedung BEI Jakarta, Senin (18/5/2026).

Jeffrey menjelaskan, keputusan IPO merupakan keputusan strategis dari masing-masing perusahaan. Pertimbangan perusahaan dalam melaksanakan aksi korporasi tersebut juga berdasarkan banyak faktor, termasuk kondisi pasar.

"Nah tentu dalam kondisi pasar seperti ini ya mungkin ada pertimbangan-pertimbangan tambahan apakah bisa mendapatkan pricing yang optimal, ya apakah apa nanti IPO-nya bisa terserap dengan baik oleh pasar atau tidak. Itu kan tentu menjadi pertimbangan dari calon perusahaan tercatat dan penjamin emisinya ya," jelasnya.

Namun, Jeffrey menilai, proses rencana calon emiten masih tetap berjalan. Harapannya, dapat sesuai dengan jadwal uang telah direncanakan. "Mudah-mudahan akan ada IPO-IPO baru," ucapnya.

Jeffrey menekankan, dalam proses IPO, BEI akan mengutamakan kualitas daripada kuantitas perusahaan sehingga keberlangsungan pasar modal Indonesia dapat terjaga.

"Tentu kita kita kan sudah sama-sama sepakat bahwa kita akan mengutamakan kualitas daripada kuantitas ya. Saya kira kesepakatan itu masih berlaku dan masih sama seperti itu," ungkapnya.

(ayh/ayh)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Ekonomi | Asset | Lokal | Tech|