Jakarta, CNBC Indonesia - Harga minyak dunia kembali melonjak pada perdagangan Senin pagi (8/6/2026) setelah pasar dikejutkan oleh serangan terbaru Israel ke Lebanon. Eskalasi baru ini memicu kekhawatiran bahwa konflik Timur Tengah akan kembali meluas dan menghambat upaya pembukaan kembali Selat Hormuz, jalur pelayaran energi paling vital di dunia.
Berdasarkan data Refinitiv per pukul 08.01 WIB, harga minyak Brent berada di US$95,29 per barel, melonjak 2,36% dibandingkan penutupan Jumat yang berada di US$93,09 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) naik 2,18% ke US$92,51 per barel dari posisi sebelumnya US$90,54 per barel. Kenaikan tersebut memangkas sebagian besar pelemahan yang terjadi pada akhir pekan lalu ketika pasar sempat optimistis terhadap peluang meredanya ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran.
Sentimen utama datang dari serangan udara Israel ke Beirut pada Minggu waktu setempat. Aksi militer tersebut berlangsung hanya beberapa hari setelah Israel dan Lebanon mengumumkan kesepakatan gencatan senjata pada 3 Juni hasil negosiasi di Washington. Situasi kian memanas setelah Iran membalas serangan terhadap sekutunya, Hizbullah, dengan meluncurkan rudal ke wilayah Israel. Rantai konflik baru ini menimbulkan keraguan bahwa perundingan damai antara Washington dan Teheran dapat segera tercapai.
Bagi pasar energi, isu terpenting bukan semata konflik militer, melainkan nasib Selat Hormuz. Iran hingga kini masih menghambat sebagian besar arus pelayaran melalui selat tersebut sejak perang AS-Iran pecah pada Februari lalu. Akibatnya, pasokan minyak global terganggu dan banyak negara produsen kesulitan mengirimkan minyak ke konsumen. Selat Hormuz sendiri merupakan jalur transit utama bagi ekspor minyak dan gas dari kawasan Teluk, sehingga setiap gangguan langsung memengaruhi keseimbangan pasokan dunia.
Di tengah kondisi tersebut, OPEC+ pada Minggu tetap memutuskan melanjutkan peningkatan produksi untuk bulan keempat secara beruntun. Tujuh anggota inti kelompok itu diperkirakan menaikkan target produksi sekitar 188 ribu barel per hari pada Juli. Namun keputusan tersebut belum mampu menenangkan pasar karena persoalan utama saat ini bukan target produksi, melainkan kemampuan negara-negara produsen untuk benar-benar mengalirkan minyak ke pasar internasional.
Data OPEC memperlihatkan produksi kelompok tersebut justru anjlok sejak konflik meletus. Produksi rata-rata turun menjadi 33,19 juta barel per hari pada April dari 42,77 juta barel per hari pada Februari. Negara-negara Teluk, termasuk Arab Saudi, menghadapi kendala besar dalam memenuhi permintaan pelanggan akibat terganggunya jalur ekspor. Rusia pun menghadapi tekanan tersendiri setelah serangan terhadap infrastruktur energinya memangkas kapasitas produksi.
Kondisi ini membuat pasar relatif mengabaikan tambahan kuota produksi OPEC+. Selama Selat Hormuz belum kembali beroperasi normal dan ketegangan geopolitik terus meningkat, risiko kekurangan pasokan masih membayangi pasar minyak global. Itulah yang membuat harga minyak kembali bergerak mendekati level tertinggi dalam lebih dari tiga bulan terakhir, meski OPEC+ terus berupaya menambah pasokan ke pasar.
CNBC Indonesia
(emb/emb)
Addsource on Google


















































