Jakarta, CNBC Indonesia — Nilai tukar rupiah kembali ditutup melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Kamis (4/6/2026). Mata uang Garuda kembali mencatatkan level terburuk sepanjang sejarah.
Melansir data Refinitiv, rupiah ditutup melemah 0,45% ke level Rp18.020/US$. Posisi ini sekaligus menegaskan bahwa rupiah telah menembus level psikologis baru di Rp18.000/US$.
Tekanan terhadap rupiah sudah terlihat sejak awal perdagangan. Rupiah dibuka melemah 0,11% di level Rp17.960/US$. Namun, hanya beberapa menit setelah pembukaan, mata uang Garuda langsung ambruk menembus Rp18.000/US$ dan bertahan di atas level tersebut hingga penutupan perdagangan.
Sementara itu, indeks dolar AS (DXY), yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama dunia, justru terpantau melemah 0,07% ke level 99,463.
Pelemahan rupiah yang semakin dalam turut direspons oleh pemerintah. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengungkapkan bahwa pemerintah telah mengucurkan dana lebih dari Rp8 triliun untuk stabilisasi pasar obligasi.
Langkah tersebut dilakukan untuk membantu Bank Indonesia (BI) menjaga stabilitas nilai tukar rupiah. Caranya dengan membeli kembali atau buyback Surat Utang Negara (SUN) yang dilepas investor asing.
Dengan strategi tersebut, pemerintah berupaya menjaga stabilitas imbal hasil atau yield Surat Berharga Negara (SBN) di pasar obligasi.
"Mungkin Rp8 triliun lebih, yang di obligasi ya," kata Purbaya di kawasan Gedung DPR, Jakarta, Kamis (4/6/2026).
Purbaya menegaskan, pemerintah sebetulnya tidak berencana mengungkapkan perkembangan realisasi kebijakan stabilisasi pasar obligasi tersebut. Namun, menurutnya, langkah ini sudah memberikan dampak nyata terhadap stabilitas yield SBN tenor acuan 10 tahun.
Saat ini, imbal hasil surat utang tenor acuan tersebut masih bergerak di kisaran 6,7%.
"Enggak apa-apa biar anda tahu saya intervensi sedikit. Terus 10 tahun relatif stabil," ujar Purbaya.
Sementara itu, Bank Indonesia menjelaskan pelemahan rupiah masih dipengaruhi oleh faktor eksternal dan domestik.
"Pelemahan nilai tukar masih dipengaruhi oleh tensi geopolitik Timur Tengah yang kembali tereskalasi dan menghambat prospek damai, sehingga mendorong harga minyak tetap tinggi dan meningkatkan risiko inflasi global serta arus dana keluar dari negara emerging," kata Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti dalam keterangan tertulis.
"Selain itu kebutuhan domestik masih cukup besar sesuai dengan pola repatriasi dividen dan pembayaran ULN," tambahnya.
BI memastikan akan meningkatkan intervensi untuk menahan pelemahan nilai tukar rupiah dan memastikan mekanisme pasar berjalan dengan baik. Selain itu, BI juga tetap memperkuat struktur suku bunga instrumen moneter yang bersifat pro-market guna menarik aliran modal masuk ke instrumen aset domestik.
Adapun intervensi dilakukan melalui transaksi Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar offshore, transaksi spot dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) di pasar domestik, serta pembelian SBN di pasar sekunder.
(evw/evw)
Addsource on Google















































