Rosan Dorong Riset dan Industri Bersinergi Percepat Hilirisasi

3 hours ago 2

Rosan Dorong Riset dan Industri Bersinergi Percepat Hilirisasi

Ilustrasi industri manufaktur. - Freepik

Harianjogja.com, JAKARTA—Kolaborasi riset dan industri menjadi faktor penting dalam mempercepat hilirisasi nasional sekaligus menciptakan nilai tambah yang lebih besar bagi perekonomian Indonesia. Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Rosan Roeslani menilai sinergi antara dunia akademik, peneliti, dan pelaku industri menjadi fondasi untuk membangun sektor industri yang berdaya saing dan berkelanjutan.

Rosan menegaskan investasi dan hilirisasi tidak hanya diukur dari besarnya modal yang masuk ke Indonesia, tetapi juga dari dampaknya terhadap penciptaan lapangan kerja berkualitas, peningkatan produktivitas nasional, penguasaan teknologi, hingga pertumbuhan nilai tambah ekonomi. Menurutnya, arah kebijakan hilirisasi harus mampu membangun ekosistem industri yang sehat, transparan, dan memberikan manfaat nyata bagi kesejahteraan masyarakat.

Pernyataan tersebut disampaikan Rosan saat memberikan keynote speech dalam Sarasehan Kebangsaan Konvensi Sains, Teknologi, dan Industri (KSTI) 2026 yang diselenggarakan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi di Hall B Jakarta International Convention Center (JICC), Jakarta, Sabtu (27/6/2026).

"Kami meyakini keberadaan dari Bapak, Ibu, Mahasiswa, dan Mahasiswi di universitas terutama di bidang riset dan development-nya tentunya memberikan kontribusi yang sangat sangat positif. Oleh sebab itu kita tinggal memikirkan kolaborasi ke depannya supaya hal-hal positif yang sudah dilahirkan dari investasi dan hilirisasi ini bisa diimplementasikan ke dalam industri-industri yang ada dan bisa menghasilkan manfaat yang luar biasa ke depannya," ujar Rosan.

Ia mengungkapkan kebijakan hilirisasi nasional telah menunjukkan hasil yang positif. Sepanjang 2025, realisasi investasi Indonesia mencapai Rp1.931,2 triliun, atau tumbuh 12,7 persen secara tahunan (year on year/yoy). Capaian tersebut juga melampaui target pemerintah dengan realisasi mencapai 101,3 persen.

Selain itu, realisasi investasi tersebut berhasil menyerap lebih dari 2,7 juta tenaga kerja langsung, meningkat sekitar 10,4 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Menurut Rosan, keterhubungan antara riset dan kebutuhan industri menjadi salah satu faktor utama dalam menciptakan industri nasional yang mampu berkembang secara berkelanjutan.

"Riset yang terhubung dengan industri menjadi salah satu faktor penting dalam membangun industri yang sehat dan berkelanjutan. Kepastian regulasi, good governance, serta kemudahan berusaha akan meningkatkan kepercayaan investor sekaligus menciptakan persaingan usaha yang adil," katanya.

Untuk memperkuat ekosistem inovasi nasional, pemerintah telah menyiapkan berbagai insentif, termasuk Super Tax Deduction hingga 300 persen bagi kegiatan riset dan pengembangan (research and development/R&D), serta hingga 200 persen untuk kegiatan pendidikan dan pelatihan.

Menurut Rosan, berbagai insentif tersebut akan memberikan hasil yang lebih optimal apabila seluruh pemangku kepentingan memperkuat kolaborasi dalam menghasilkan inovasi yang dapat diterapkan secara langsung di sektor industri.

Selain mendorong sinergi riset dan industri, peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM) juga menjadi bagian penting dalam agenda hilirisasi nasional. Menurutnya, pembangunan industri harus berjalan beriringan dengan penguatan kompetensi tenaga kerja melalui pelatihan, riset, peningkatan keterampilan, keselamatan kerja, hingga terciptanya hubungan industrial yang harmonis.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : Antara

Sunartono

Sunartono Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online

Read Entire Article
Ekonomi | Asset | Lokal | Tech|