Putra Orang Terkaya Pilih Jadi Biksu, Tinggalkan Harta Rp90 Triliun

14 hours ago 5

Jakarta, CNBC Indonesia - Tidak semua orang menjadikan kekayaan sebagai tujuan utama hidup. Hal itu tercermin dari keputusan Ajahn Siripanyo, putra seorang miliarder Malaysia, yang memilih meninggalkan kehidupan mewah demi menempuh jalan spiritual sebagai biksu Buddha.

Siripanyo diketahui merupakan putra tunggal Ananda Krishnan, salah satu konglomerat terkaya di Malaysia. Krishnan membangun kerajaan bisnis yang bergerak di sektor telekomunikasi, satelit, minyak dan gas, properti, hingga media dengan nilai mencapai US$5 miliar atau sekitar Rp90,48 triliun.

"Pilihan Ajahn Siripanyo sepenuhnya adalah pilihannya sendiri, dan itu dihormati dalam keluarga," tulis laporan South China Morning Post (SCMP) yang dikutip dari Economic Times, Minggu (7/6/2026).

Selain terhubung dengan dunia bisnis melalui sang ayah, Siripanyo juga memiliki garis keturunan bangsawan dari pihak ibu. Ibunya, Momwajarongse Suprinda Chakraban, merupakan keturunan keluarga kerajaan Thailand yang memberinya ikatan dengan lingkungan aristokrat dan kehidupan serba berkecukupan.

Meski lahir dari keluarga kaya raya, Siripanyo mengambil keputusan besar pada usia 18 tahun untuk menjadi biksu. Keputusan tersebut sejalan dengan keyakinan Buddha yang dianut keluarganya, meskipun langkah itu tergolong tidak lazim bagi pewaris kerajaan bisnis bernilai puluhan triliun rupiah.

Perjalanan spiritualnya bermula dari sebuah retret singkat di Thailand. Namun, pengalaman tersebut berkembang menjadi komitmen seumur hidup. Selama lebih dari dua dekade, Ajahn Siripanyo menjalani kehidupan sebagai biksu hutan dan bermukim di Biara Dtao Dum yang berada di dekat perbatasan Thailand dan Myanmar.

Siripanyo menghabiskan masa kecilnya di London bersama dua saudara perempuannya. Ia menempuh pendidikan di Inggris dan disebut menguasai sedikitnya delapan bahasa. Pengalaman hidup lintas budaya itu turut membentuk pandangannya terhadap dunia sekaligus memperdalam pemahamannya terhadap ajaran Buddha.

Sebagai biksu, Siripanyo memilih meninggalkan kehidupan materialistis dan menjalankan prinsip hidup sederhana. Ia hidup dengan mengandalkan derma masyarakat serta menjalani keseharian yang jauh berbeda dari lingkungan tempat ia dibesarkan.

Meski demikian, ia sesekali tetap menjalin hubungan dengan keluarganya, termasuk mengunjungi sang ayah. Kunjungan tersebut dilakukan tanpa meninggalkan prinsip-prinsip ajaran Buddha yang tetap menekankan pentingnya hubungan kekeluargaan.

Kisah hidup Siripanyo kerap dibandingkan dengan karakter fiktif Julian Mantle dalam buku The Monk Who Sold His Ferrari. Bedanya, perjalanan Siripanyo merupakan kisah nyata tentang seseorang yang memilih jalan spiritual dibandingkan mewarisi kekayaan bernilai puluhan triliun rupiah.

(luc/luc)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Ekonomi | Asset | Lokal | Tech|