Profil Saif al-Islam: Putra Muammar Qaddafi, Calon Pemimpin Masa Depan Libya yang Tewas Dibunuh

2 hours ago 1

REPUBLIKA.CO.ID, ZINTAN -- Saif al-Islam Qaddafi, putra mantan Presiden Libya, Muammar Qaddafi dilaporkan tewas terbunuh di kota Zintan. Saif, 53 tahun, adalah putra kedua Qaddafi yang telah menetap di Zintan sejak ayahnya terguling dari kekuasaan, dan tengah mempersiapkan dirinya kembali ke gelanggang politik Libya.

Tokoh-tokoh yang dekat dengan almarhum, termasuk penasihat politik, Abdullah Othman dan pengacaranya, Khaled el-Zaydi, mengonfirmasi kematian Saif pada Selasa (3/1/2026). Sebuah pernyataan dari tim politik Saif mengatakan, bahwa Saif dibunuh oleh "empat orang bertopeng" yang mendobrak masuk rumah korban di Zintan.

Dilaporkan Al Jazeera, sebelum revolusi pada 2011 terjadi di Libya, Saif al-Islam dikenal sebagai tokoh yang digadang-gadang akan menjadi penerus kepemimpinan Qaddafi. Saif masih menjadi tokoh sentral di panggung politik Libya saat 'Arab Spring' terjadi dan muncul beragam tuduhan terhadapnya terkait kasus kekerasan ekstrem terhadap kelompok oposisi ayahnya. 

Pada Februari 2011, Saif masuk dalam daftar tokoh yang disanksi oleh PBB dan dicekal untuk bepergian keluar negeri. Pada Maret 2011, NATO mulai membombardir Libya setelah PBB mengesahkan resolusi yang membolehkan "penerapan cara apapun" untuk melindungi warga sipil dari tindakan militer Qaddafi terhadap perang saudara di Libya.

Pada Juni 2011, Saif al-Islam mengumumkan bahwa ayahnya berkenan menggelar pemilu dan lengser jika para pemilih tak lagi memilihnya. Namun tawaran itu ditolak NATO yang melanjutkan aksi bombardirnya.

Pada akhir Juni 2011, Mahkamah Kriminal Internasional (ICC) menerbitkan surat penahanan terhadap Saif al-Islam, namun dia tetap bebas hingga ayah dan saudara kandungnya, Mutassim tewas di Sirte, pada 20 Oktober 2011. Menyusul negosiasi yang panjang dengan ICC yang mendesak ekstradisi terhadapnya, pemerintah Libya diberi kesempatan untuk memproses hukum Saif terkait tuduhan pidana kejahatan perang selama revolusioner 2011.

Pada 2014, Saif al-Islam muncul lewat di persidangan lewat sebuah tautan video, di mana dia saat itu ditahan di Zintan. Pada Juli 2015, pengadilan Tripoli menjatuhkan vonis mati terhadap Saif.

Namun pada 2017, Saif dilepas oleh Battalion Abu Bakr as-Siddiq Battalion, sebuah kelompok milisi yang mengontrol kota Zintan, sebagai abgian dari amnesti yang diterbitkan oleh otoritas Libya bagian timur, yang tidak diakui oleh dunia internasional. Setelah dibebaskan, Saif tidak pernah lagi muncul di publik dan tetap berstatus buron ICC. 

Pada Juli 2021, Saif al-Islam diwawancara oleh New York Times, di mana ia menuduh otoritas Libya "takut terhadap pemilu".

Menjelasakan persona di bawah tananya, Saif mengatakan dia telah "dijauhkan dari rakyat Libya selama 10 tahun".

"Anda harus kembali secara perlahan, perlahan, seperti seorang penari telanjang," kata Saif.

Saif kemudian muncul ke publik untuk pertama kalinya pada November 2021, di kota Sebha, di mana dia berupaya menggalang kembali kekuatan politik untuk menjadi presiden Libya, meneruskan ambisi pendukung ayahnya. Sempat dicegah terlibat, Saif lolos menjadi calon, namun pemilu tidak pernah terealisasi akibat dari situasi politik Libya yang kacau, di mana terjadi dualisme pemerintahan di pemerintah pusat.

Read Entire Article
Ekonomi | Asset | Lokal | Tech|