Prambanan Joy Jazz dan Gegap Gempita Masyarakat Musik Indonesia

4 hours ago 3

Prambanan Joy Jazz dan Gegap Gempita Masyarakat Musik Indonesia

Direktur Komersial InJourney Destination Management, Gistang Richard Panutur (dua dari kiri), sedang menyampaikan potensi Prambanan Jazz dalam menopang ekonomi pariwisata nasional di Taman Agastya Candi Prambanan, Kamis (2/7/2026)./ Harian Jogja/ Andreas Yuda Pramono

SLEMAN—Prambanan Jazz kembali hadir di Yogyakarta. Mengusung tajuk Celebrate The Joy, hajat musik jazz terbesar di Indonesia ini mengajak masyarakat bersenang-senang merayakan kegembiraan kecil yang terserak di sepanjang tahun belakang bersama keluarga, rekan tercinta, dan pasangan.

Natasya Elvira keranjingan. Ia berjingkrak sembari melantunkan lagu berjudul Kembali ke Prambanan Jazz. Lagu ini pas sekali dibawakan di sore hari dengan cahaya oranye tumpah ruah berlatar belakang Candi Prambanan yang megah.

Sebagai vokalis utama Societeit de Harmonie, Natasya tidak bisa setengah hati membawakan theme song itu.

Melihat ia berjingkat, ada perasaan hangat, tenang, bungah yang perlahan muncul di dada. Kembali ke Prambanan Jazz akan menjadi mantra yang menyihir penonton selama tiga hari penyelenggaraan festival mulai tanggal 3 – 5 Juli 2026.

Founder Prambanan Jazz, Anas Syahrul Alimi, bercerita Natasya akan berkolaborasi dengan Joey Alexander dan Dewa Bujana. Kolaborasi tiga musisi ini akan memberi sesuatu yang segar pada gelaran jazz tahun ini, menghadirkan imajinasi melalui jazz.

“Sebuah festival memang ditopang dan ditujukan untuk kegembiraan. Kami membuat Prambanan Jazz sebagai sebuah rumah untuk pulang dengan serambi yang menghadirkan banyak hal di situ,” kata Anas dalam konferensi pers di Taman Agastya Komplek Candi Prambanan, Kamis (2/7/2026).

Sebagai kurator Prambanan Jazz 2026, Shadu Rasjidi, mengaku kolaborasi dengan Joey Alexander dan legenda musik Margie Segers menjadi upayanya untuk memperkuat representasi musik jazz pada festival tahun ini.

Penonton juga akan menyaksikan musisi lintas genre yang ikut terlibat dalam mengeksplorasi musik jazz dengan cara masing-masing yang dibungkus dalam konsep Playing Jazz.

“Saya percaya bahwa sebuah festival harus memiliki identitas. Kita bersama-sama juga perlu memastikan festival ini tetap hidup dan berkembang,” kata Shadu.

Selain musik, Prambanan Jazz juga memberi sentuhan bermacam warna gembira melalui karya visual Eko Nugroho, commission artist asal Bumi Mataram. Dalam pandangannya, festival ini merupakan sebuah fenomena luar biasa unik.

Celebrate The Joy, kata ia berarti kebebasan merayakan dan menikmati kesenian yang selama ini menjadi bagian dari hidup masyarakat. Lewat pemaknaan tersebut, Eko menghadirkan dua atmosfer yang memberikan pengalaman berbeda kepada penonton.

Ia mengajak penonton untuk mengenali dan mencermati berbagai peristiwa di sekitar secara lebih jernih melalui karyanya yang merespons lingkungan di sekitar pintu masuk festival.

“Kalau di Bali ada pohon-pohon ditutup kain putih dengan tradisi yang mengikuti. Karya visual saya hanya menampilkan warna hitam - putih untuk menampakkan dua hal hitam dan putih,” kata Eko.

Setelah melintasi pintu (gate) festival, penonton didorong jatuh dalam dunia warna-warni. Penonton akan menjadi satu bercampur (blending) dengan karya Eko. Karya yang lebih interaktif dan based on feeling yang bertemu momentum memunculkan ledakan kegembiraan. Ia menggunakan istilah Prambanan Joy untuk merangkum keseluruhan konsep Prambanan Jazz.

Prambanan Jazz Sebagai Kekuatan Pariwisata

Direktur Komersial InJourney Destination Management, Gistang Richard Panutur, menyampaikan music tourism menjadi salah satu wujud wisata yang diminati masyarakat. Hal ini bisa dilihat pada gelaran Prambanan Jazz 2025 yang dihadiri sekitar 76.000 penonton dalam tiga hari penyelenggaraan.

“Kami sebagai salah satu destinasi pariwisata terus mendorong keberadaan acara-acara berskala nasional dan internasional. Dampaknya bukan hanya untuk penyelenggara, namun juga masyarakat sekitar. Ekonomi pariwisata dan lokal akan berputar,” kata Gistang.

Prambanan Jazz sebagai motor ekonomi. Paling tidak, length of stay (LoS) atau lama tinggal wisatawan akan lebih panjang. Tidak mustahil para pelancong akan memilih tinggal hingga sepekan di Yogyakarta.

Sementara itu Regional Funding and Retail Transaction Banking Head BRI, Evi Martiani, mengaku BRI hadir bukan sekadar sebagai sponsor, namun juga hadir dalam peran untuk memberi meaningful engagement kepada masyarakat.

“Apa yang disajikan Prambanan Jazz benar-benar akan menghidupkan ekonomi masyarakat. Kami di BRI, bisnis-bisnis yang relate dengan acara musik ini ada banyak, rumah makan, tempat oleh-oleh, dan hotel. Nasabah kami ikut hidup juga lewat festival jazz terbesar di Indonesia,” kata Evi.

Prambanan Jazz juga menggandeng platform tiketing, TipTip ID. Lewat pembelian tiket secara digital, penonton domestik dan internasional akan lebih mudah mengaksesnya. Sistem digital akan mempersempit bahkan menutup celah calo tiket.

Kepercayaan penggunaan sistem tiket digital itu dapat dilihat dalam pembukaan early bird tiket Prambanan Jazz.

“Antusiasme luar biasa. Kami juga kaget. Dari early bird saja menumpuk. Pembeli tiket happy, karena pembelian tiket lancar dan hingga sekarang antusias masyarakat masih tinggi,” kata VP of Bussines of Ticketing TipTip Network Indonesia, Mirna Puspita.

Melihat data pembeli tiket melalui TipTip ID, Mirna mengaku Prambanan Jazz 2026 akan dihadiri penonton dari berbagai elemen masyarakat dan usia. Generasi X, Millenial, hingga Z akan membawa kehangatan dan kemeriahan hajat jazz di Candi Prambanan. Satu keluarga datang ke Prambanan Jazz sekalian liburan. (Advertorial)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Read Entire Article
Ekonomi | Asset | Lokal | Tech|