![]()
Papan reklame yang menampilkan mendiang mantan pemimpin Iran Ali Khamenei dan putranya, Mojtaba Khamenei, yang tewas dalam serangan AS dan Israel (28/2) terlihat dipasang di jalan raya Bandara Internasional Rafic Hariri di Beirut, Lebanon, Selasa (21/6/2026). ANTARA/Anadolu Agency/Houssam Shbaro/pri.
Harianjogja.com, TEHERAN — Ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali meningkat menjelang rangkaian penghormatan terakhir dan pemakaman Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei. Militer Iran secara terbuka memperingatkan Amerika Serikat, Israel, dan sekutu mereka agar tidak melakukan tindakan yang dapat memicu eskalasi konflik.
Komandan Markas Pusat Angkatan Bersenjata Iran, Ali Abdollahi, menegaskan pihaknya tidak akan mentoleransi segala bentuk ancaman maupun agresi terhadap Iran. Pernyataan tersebut disampaikan melalui siaran televisi pemerintah IRIB pada Kamis (2/7/2026).
Dalam pernyataannya, Abdollahi meminta pihak-pihak yang dianggap sebagai lawan Iran untuk tidak melakukan kesalahan perhitungan di tengah situasi yang sensitif. Ia menilai momen berkabung nasional ini justru harus menjadi pengingat akan risiko besar jika terjadi provokasi militer.
“Dalam hari-hari yang penuh pelajaran ini, kami memperingatkan musuh-musuh Iran, khususnya Amerika Serikat dan Israel, serta sekutu mereka, agar tidak melakukan kesalahan perhitungan dalam bentuk apa pun,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa angkatan bersenjata Iran berada dalam kondisi siaga penuh dan siap memberikan respons cepat serta tegas terhadap setiap ancaman yang muncul. Menurutnya, segala bentuk agresi akan dibalas dengan kekuatan yang sepadan bahkan lebih besar.
Selain itu, Abdollahi juga menyoroti meningkatnya aktivitas militer Amerika Serikat di kawasan Selat Hormuz. Ia menyebut keberadaan pesawat tempur dan drone di wilayah tersebut berpotensi memperkeruh situasi keamanan regional.
“Iran akan merespons dengan cepat jika ada upaya campur tangan di Selat Hormuz. Kehadiran militer asing justru memperbesar risiko konflik,” katanya.
Rangkaian prosesi penghormatan terakhir bagi Khamenei dijadwalkan berlangsung selama hampir satu pekan, mulai 4 hingga 9 Juli 2026. Upacara akan diawali di Teheran pada 4–6 Juli, kemudian dilanjutkan ke Qom pada 7 Juli, serta Najaf dan Karbala di Irak pada 8 Juli.
Pemakaman Khamenei sendiri direncanakan berlangsung pada 9 Juli di Mashhad, kota kelahirannya di timur laut Iran. Sebelumnya, upacara kenegaraan yang dihadiri para kepala negara dan delegasi internasional akan digelar di Teheran pada 3 Juli.
Kematian Khamenei pada 28 Februari lalu, yang disebut terjadi akibat serangan militer gabungan Amerika Serikat dan Israel di Teheran, menjadi titik balik besar dalam dinamika politik Iran. Peristiwa tersebut memicu ketegangan global sekaligus membuka babak baru dalam kepemimpinan negara itu.
Setelah wafatnya Khamenei, posisi pemimpin tertinggi Iran kini dipegang oleh putranya, Mojtaba Khamenei. Namun hingga kini, Mojtaba belum tampil secara langsung di hadapan publik. Ia hanya menyampaikan pesan-pesan resmi melalui media pemerintah.
Situasi ini membuat perhatian dunia tertuju pada Iran, terutama terkait potensi perubahan arah kebijakan politik dan keamanan di bawah kepemimpinan baru. Di tengah suasana duka dan transisi kekuasaan, peringatan keras dari militer Iran menjadi sinyal bahwa negara tersebut tetap menunjukkan sikap tegas terhadap tekanan eksternal.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Antara
Abdul Hamied Razak Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online

















































