Prabowo Optimistis Bisa 'Sulap' Tanaman Jadi BBM

3 hours ago 1

Jakarta, CNBC Indonesia - Presiden RI Prabowo Subianto menyampaikan optimismenya bahwa Indonesia mampu memproduksi bahan bakar minyak (BBM) dari tanaman. Hal ini disampaikan di tengah meningkatnya ketidakpastian pasokan energi global serta lonjakan harga minyak dunia akibat konflik antara Iran dan Israel yang turut melibatkan Amerika Serikat.

Menurut Prabowo, RI memiliki potensi sumber daya alam yang besar untuk mencapai swasembada energi melalui pengembangan bahan bakar nabati. Sebagai contoh, tanaman seperti kelapa sawit dan singkong dapat diolah menjadi sumber energi alternatif yang mampu mengurangi ketergantungan pada impor BBM.

Prabowo lantas mengingatkan bahwa selama bertahun-tahun pemerintah telah memperjuangkan kemandirian energi nasional. Adapun, Indonesia dianugerahi sumber daya yang memungkinkan kebutuhan BBM dipenuhi dari dalam negeri.

"Kita memiliki karunia besar dari Yang Maha Kuasa, bahwa kita nanti mampu kebutuhan BBM kita dari, bukan dari impor luar negeri, bahkan dari tanaman-tanaman kita. Dari kelapa sawit, dari singkong," kata Prabowo dalam Konferensi Pers secara virtual, dikutip Selasa (10/3/2026).

Sebalumnya, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menyampaikan pemerintah sedang melakukan berbagai simulasi kebijakan untuk menentukan langkah efisiensi yang paling tepat dalam menghadapi kepastian pasokan energi global. Efisiensi yang dimaksud adalah terkait penyelamatan terhadap keuangan negara dan optimalisasi seluruh energi yang tersedia di dalam negeri.

"Kita juga akan melihat seberapa penting dan langkah apa yang harus kita lakukan dalam rangka melakukan efisiensi," kata Bahlil di Kementerian ESDM, Senin (9/3/2026).

Bahlil membeberkan salah satu langkah yang dipertimbangkan pemerintah adalah mempercepat pemanfaatan bahan bakar nabati melalui peningkatan campuran biodiesel dan bioetanol.

Setidaknya pemerintah bakal menggenjot penerapan biodiesel dengan campuran lebih tinggi hingga B50 serta mendorong penerapan bioetanol E20 pada BBM jenis bensin.

"Karena kalau harga minyak fosil bisa melampaui US$100 per barel, maka akan lebih murah jika kita melakukan blending. Untuk diesel, dari B40 sekarang menjadi B50. Atau kita bikin mandatori untuk bensin dan itu lebih bersih," katanya.

(pgr/pgr)

Add as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Ekonomi | Asset | Lokal | Tech|