Foto ilustrasi impor dan eksport. / Freepik
Harianjogja.com, JOGJA—Memanasnya konflik di Timur Tengah antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran dipastikan belum berdampak langsung terhadap kinerja ekspor Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).
Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan DIY, Yuna Pancawati, menyatakan hingga saat ini aktivitas ekspor daerah masih berjalan normal.
"Dampak perang AS, Israel, Iran dan memanasnya kondisi Timur Tengah belum terlihat pada kegiatan ekspor DIY," kata Yuna.
Logistik dan Harga Energi Perlu Diwaspadai
Meski belum terdampak, Yuna mengingatkan ada sejumlah potensi risiko yang perlu diantisipasi. Di antaranya gangguan logistik atau pengiriman barang, kenaikan harga bahan baku akibat distribusi yang tersendat, hingga potensi lonjakan harga energi yang bisa menekan biaya produksi.
Ia berharap pelaku usaha di DIY mampu beradaptasi dengan dinamika global yang berkembang.
"Disperindag DIY akan terus memantau kondisi perdagangan dan terus berkoordinasi dengan pemerintah pusat maupun stakeholder terkait agar hambatan perdagangan bisa mendapatkan solusi," ujarnya.
Ekspor DIY Tumbuh 8,14% Secara Tahunan
Sementara itu, data terbaru dari Badan Pusat Statistik (BPS) DIY menunjukkan nilai ekspor pada Januari 2026 mencapai 46,94 juta dolar AS. Angka tersebut naik 8,14% dibandingkan Januari 2025 secara tahunan (year-on-year/yoy).
Plt. Kepala BPS Provinsi DIY, Endang Tri Wahyuningsih, menyebut kenaikan ekspor terutama ditopang sektor industri pengolahan yang berkontribusi sekitar 99% terhadap total ekspor DIY.
Ekspor dari sektor industri pengolahan tercatat tumbuh 8,31% yoy pada Januari 2026. Beberapa komoditas unggulan yang mengalami peningkatan signifikan antara lain pakaian rajutan dan aksesorisnya yang tumbuh 84,18%, serta pakaian bukan rajutan dan aksesorisnya yang naik 7,50%.
Namun, ekspor barang dari kulit samak justru turun 20,12% dibandingkan Januari 2025.
Ekspor ke AS dan Jerman Naik
Secara bulanan (month-to-month/mtm), nilai ekspor Januari 2026 turun 10,18% dibandingkan Desember 2025. Penurunan ini terutama dipengaruhi sektor industri pengolahan yang masih mendominasi struktur ekspor DIY.
"Berdasarkan negara tujuan, ekspor ke AS dan Jerman mengalami kenaikan, sedangkan ekspor ke Jepang, kawasan Asean dan Uni Eropa tercatat menurun dibandingkan bulan sebelumnya," jelasnya.
Pada Januari 2026, sekitar 67,02% pangsa ekspor DIY ditopang tiga negara utama yakni AS, Jerman, dan Jepang.
Ekspor ke AS mencapai 49,54% atau senilai 23,25 juta dolar AS, didominasi komoditas pakaian bukan rajutan dan aksesorisnya, pakaian rajutan dan aksesorisnya, serta barang dari kulit samak.
Sementara ekspor ke Jerman tercatat sebesar 5,30 juta dolar AS atau 11,28%, dengan komoditas utama pakaian bukan rajutan dan aksesorisnya, pakaian rajutan dan aksesorisnya, serta gula dan kembang gula.
"Sementara itu, ekspor ke Jepang sebesar 2,91 juta dolar AS atau 6,20% didominasi oleh pakaian rajutan dan aksesorisnya, pakaian bukan rajutan dan aksesorisnya, serta perabotan, lampu, dan alat penerangan," jelasnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


















































