Pengusaha Perikanan Diimbau Terapkan Stelina Perluas Akses Pasar Global

5 hours ago 3

Wakil Menteri Kelautan dan Perikanan Didit Herdiawan Ashaf.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) mengajak para pengusaha perikanan mulai menggunakan "Stelina" atau Sistem Ketertelusuran dan Logistik Ikan Nasional agar ikan hasil tangkapan lebih mudah masuk dan bersaing di pasar global.

Wakil Menteri Kelautan dan Perikanan Didit Herdiawan Ashaf menjelaskan kriteria produk unggulan di pasar internasional telah bergeser. Saat ini, kualitas fisik saja tidak cukup jika tidak dibarengi dengan bukti legalitas dan keberlanjutan.

“Produk perikanan yang dibutuhkan saat ini bukan lagi sekadar produk yang berkualitas, tetapi juga yang berasal dari rantai pasok yang legal, transparan, tertelusur, serta menjunjung tinggi prinsip keberlanjutan dan tanggung jawab sosial,” ujar Didit dalam keterangan pers di Jakarta, Jumat (10/4/2026).

Menurut dia, seiring dengan meningkatnya kesadaran lingkungan, konsumen global kini menuntut informasi detail mengenai asal-usul produk, metode penangkapan, hingga dampak budidaya terhadap ekosistem.

Stelina, lanjut dia, hadir sebagai instrumen untuk merekam setiap tahapan perjalanan ikan secara transparan.

KKP sebelumnya telah menggelar Seafood Traceability Technical Alignment and Industry Engagement Workshop pada 8 April 2026.

Forum ini bertujuan menyelaraskan pemahaman teknis antara pemerintah dan pelaku usaha mengenai pentingnya sistem ketertelusuran dalam memenangkan kepercayaan pembeli internasional.

Menurut Didit, sistem pelacakan ini juga akan diterapkan pada Kampung Nelayan Merah Putih agar hasil tangkapan nelayan di desa-desa tidak hanya laku di pasar lokal, tetapi juga punya profil ketertelusuran yang jelas agar mampu menembus pasar ekspor.

Plt. Direktur Jenderal Penguatan Daya Saing Produk Kelautan dan Perikanan Machmud menjelaskan Stelina bekerja dengan basis interoperabilitas antarsistem. Produk akhirnya berupa teknologi QR Code yang merangkum data dari hulu hingga hilir.

“Sistem ini memberikan gambaran menyeluruh kepada konsumen dan sekaligus menepis isu negatif bahwa produk perikanan Indonesia berasal dari praktik illegal fishing atau cara-cara yang merusak lingkungan,” ucap Machmud.

sumber : Antara

Read Entire Article
Ekonomi | Asset | Lokal | Tech|