Kendaraan antre untuk memasuki kapal penyeberangan di Pelabuhan Merak, Kota Cilegon, Banten, Rabu (18/3/2026).
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kemacetan panjang di lintasan penyeberangan Merak, Kota Cilegon, Banten, selalu terulang setiap tahunnya. Kondisi itu dikeluhkan oleh para sopir dan pengurus truk serta masyarakat di sekitar pelabuhan karena menimbulkan kerugian bagi mereka.
Ketua Paguyuban Pengurus Truk (Petruck) Merak, Marhan menyampaikan, seringnya terjadinya antrean panjang telah merugikan banyak pihak. Dia mencontohkan, banyaknya truk yang mengantrie di jalan raya membuat aktivitas masyarakat di sekitar pelabuhan menjadi sangat terganggu.
"Karena masyarakat tidak bisa lagi leluasa mengunakan akses jalan raya untuk kegiatan keseharian mereka. Selain itu sopir-sopir kami juga mengalami kerugian pembengkakan biaya operasional, penurunan pendapatan, terganggunya mental dan psikologis, serta klaim akibat keterlambatan pengiriman," ucap Marhan dalam siaran pers di Jakarta, Kamis (2/4/2026).
Marhan menuntut, semua kapal yang banyak menganggur di Pelabuhan Merak supaya bisa dioperasikan. Dia mendapati, masih ada operator yang tidak mengoperasikan armadanya saat musim padat penumpang. "Seharusnya Gapasdap mengoperasikan kapal-kapal yang banyak menganggur itu supaya antrean tidak kerap terjadi lagi," kata Marhan menuntut.
Secara terpisah, Ketua DPC Gabungan Pengusaha Nasional Angkutan Sungai, Danau, dan Penyeberangan (Gapasdap) Merak Ir Togar Napitupulu menyampaikan, kapal-kapal yang banyak menganggur di lintasan Penyebrangan Merak tidak mungkin bisa dioperasikan semua. Hal itu terjadi karena terbatasnya dermaga, tempat bersandarnya kapal tersebut.
"Jumlah kapal yang sedang tidak beroperasi atau menganggur memang banyak, tapi karena keterbatasan jumlah dermaga, maka kapal‐kapal tersebut tidak memungkinkan lagi untuk dioperasikan," jelas Togar.

12 hours ago
4

















































