Foto ilustrasi hujan ringan. / Freepik
arianjogja.com, MATARAM— Pola cuaca yang berubah cepat dalam satu hari, dari panas terik di pagi hingga hujan di sore hari, menjadi tanda wilayah Nusa Tenggara Barat mulai memasuki masa peralihan musim atau pancaroba.
Kondisi ini ditandai dengan cuaca yang terasa ekstrem dalam waktu singkat. Suhu panas sejak pagi hingga siang hari memicu terbentuknya awan hujan yang kemudian turun pada siang hingga sore hari di wilayah tertentu.
Ketua Kelompok Kerja Observasi, Data, dan Informasi Stasiun Meteorologi Zainuddin Abdul Madjid, Ari Wibianto, menjelaskan fenomena ini merupakan ciri khas pancaroba.
“Kondisi panas saat pagi hingga siang hari, kemudian terjadi hujan ketika sore hari merupakan tanda masa pancaroba,” ujarnya, Senin (6/4/2026).
Ia menjelaskan, pemanasan permukaan bumi yang tinggi pada siang hari menjadi pemicu utama terbentuknya awan konvektif yang berpotensi menimbulkan hujan lokal.
Selain itu, pertemuan massa udara panas dan dingin serta kelembapan udara yang tinggi turut memperkuat potensi hujan dalam waktu singkat.
“Hal ini diperkuat dengan adanya pergesekan massa udara dingin dan panas, serta kelembapan udara yang tinggi,” katanya.
BMKG memperkirakan pola cuaca ekstrem harian seperti ini masih akan berlangsung hingga wilayah NTB benar-benar memasuki musim kemarau.
Berdasarkan data klimatologi, sekitar 74 persen wilayah NTB mulai masuk musim kemarau pada awal April 2026, dimulai dari wilayah timur dan bergerak ke bagian barat.
Selama masa pancaroba, masyarakat diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi hujan mendadak, angin kencang, dan petir yang bisa terjadi sewaktu-waktu.
Warga juga diimbau membawa perlengkapan hujan saat beraktivitas di luar serta menghindari berteduh di bawah pohon atau baliho saat hujan disertai angin kencang.
Selain itu, menjaga kebersihan lingkungan juga penting untuk mengurangi risiko banjir akibat perubahan cuaca yang tidak menentu.
Perubahan cuaca yang terjadi dalam satu hari ini menjadi sinyal bahwa peralihan musim sedang berlangsung dan membutuhkan kewaspadaan lebih dari masyarakat.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Antara


















































