Mentan Sebut Pertanian Bisa Jadi Jalan Atasi Kemiskinan di Alor

2 hours ago 4

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman menyebut sektor pertanian bisa menjadi jalan untuk mengatasi kemiskinan di Kabupaten Alor, Nusa Tenggara Timur (NTT). Pemerintah menyiapkan pengembangan pertanian jangka pendek dan jangka panjang untuk meningkatkan pendapatan masyarakat sekaligus memperkuat ketahanan pangan daerah.

Amran melihat Alor memiliki potensi pertanian yang besar karena didukung kondisi agroklimat yang cocok untuk sejumlah komoditas. Kelapa, mete, dan kakao akan dikembangkan sebagai tanaman jangka panjang, sedangkan padi dan jagung disiapkan untuk memberikan hasil lebih cepat kepada masyarakat.

"Potensinya besar. Kenapa? Di sini ditopang sektor pertanian," kata Mentan saat kunjungan kerja di Alor, NTT, Sabtu (8/8/2026).

Amran menargetkan pengembangan tanaman produktif sedikitnya mencapai 10 ribu hektare di Alor. Dengan asumsi satu hektare diperuntukkan bagi satu keluarga, program tersebut berpotensi menjangkau sekitar 10 ribu keluarga.

Ia menghitung jika setiap keluarga terdiri atas empat orang, pengembangan 10 ribu hektare dapat memberikan manfaat kepada sekitar 40 ribu orang. Angka tersebut, menurutnya, dapat menjadi salah satu basis untuk menekan kemiskinan di Alor.

"Kita target di sini tanaman 10.000 hektare minimal. Kalau 10.000, satu hektare satu keluarga, berarti itu sama dengan 10.000 keluarga," ujar Amran.

Mentan menyadari tanaman seperti kakao dan mete membutuhkan waktu sebelum menghasilkan. Karena itu, pemerintah tidak hanya mengembangkan tanaman perkebunan, tetapi juga mendorong padi dan jagung agar masyarakat memperoleh hasil dalam jangka lebih pendek.

"Jadi program kita jelas: ada jangka pendek, ada jangka panjang. Dua-duanya kita lakukan di sini," kata tokoh asal Sulawesi Selatan ini.

Menurut Amran, padi dapat dipanen sekitar tiga hingga empat bulan. Sementara itu, kakao dan mete diproyeksikan menjadi sumber pendapatan jangka panjang karena dapat terus menghasilkan selama puluhan tahun setelah mulai berbuah.

Untuk mempercepat program tersebut, pemerintah memberikan bibit, alat dan mesin pertanian (alsintan), serta pompa untuk lahan yang memiliki sumber air. Mentan memastikan biaya bibit dan penanaman dalam program prioritas pemerintah ditanggung negara.

Penguatan sektor pertanian tersebut berjalan beriringan dengan intervensi pemerintah untuk memastikan kebutuhan pangan masyarakat Alor terpenuhi. Langkah itu menjadi perhatian setelah mahasiswa asal Alor, Adriano Padama, menyampaikan persoalan tingginya harga beras dan rendahnya produksi lokal kepada Amran saat berdialog di Universitas Diponegoro (Undip), Semarang.

Adriano menyebut kebutuhan beras di Alor mencapai sekitar 24 ribu hingga 27 ribu ton per tahun. Namun, produksi lokal baru mampu memenuhi sekitar 10 persen kebutuhan sehingga daerah tersebut masih bergantung pada pasokan dari luar.

"Masalahnya Pak, kebutuhan beras kami itu sekitar 24-27 ribu ton per tahun, sedangkan kemampuan kami cuma bisa 10 persen, sehingga harga beras sering naik dan mahal, Pak," ujar Adriano.

Kondisi geografis kepulauan juga membuat biaya distribusi beras menjadi tinggi. Adriano menyebut harga beras di wilayah perkotaan berada di kisaran Rp 13 ribu hingga Rp 15 ribu per kilogram, sedangkan di pedalaman mencapai Rp 17 ribu hingga Rp 18 ribu per kilogram.

Harga bahkan dapat melonjak hingga Rp 25 ribu-Rp 30 ribu per kilogram ketika hujan menghambat distribusi antarpulau. Menanggapi kondisi tersebut, Amran meminta Perum Bulog segera menggelontorkan beras Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) ke Alor.

Read Entire Article
Ekonomi | Asset | Lokal | Tech|