Ilustrasi berdoa.
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA— Allah Ta'ala memiliki hikmah yang sangat dalam dalam setiap keadaan yang menimpa manusia.
Ketika melihat apa yang terjadi di Palestina, Lebanon, Sudan, maupun kawasan Teluk, sebagian orang mungkin bertanya-tanya mengapa penderitaan terus berlangsung dan pertolongan terasa belum kunjung datang.
Namun ketika tabir segala perkara tersingkap, baik sekarang maupun di kemudian hari, kita akan memahami bahwa apa yang telah Allah SWT tetapkan mengandung hikmah dan pada hakikatnya adalah kebaikan.
Seandainya Allah SWT memperlihatkan kepada seorang hamba bagaimana Dia mengatur urusannya, dan bahwa kasih sayang-Nya kepada hamba tersebut melebihi kasih sayang seorang ibu kepada anaknya, niscaya hati sang hamba akan luluh karena cinta dan syukur kepada Allah SWT.
Karena itulah para nabi dan orang-orang saleh senantiasa berserah diri kepada keputusan Allah. Mereka memahami hikmah-Nya dan mengingat nama Allah Al-Hakim (Yang Maha Bijaksana) ketika menghadapi musibah.
Bukankah Nabi Ya'qub 'alaihissalam berkata ketika kehilangan tiga putranya sekaligus—Yusuf, saudara kandung Yusuf, dan anak yang tertahan karena saudaranya:
فَصَبْرٌ جَمِيلٌ ۖ عَسَى اللَّهُ أَنْ يَأْتِيَنِي بِهِمْ جَمِيعًا ۚ إِنَّهُ هُوَ الْعَلِيمُ الْحَكِيمُ
" Maka kesabaran yang baik itulah (kesabaranku). Mudah-mudahan Allah mendatangkan mereka semuanya kepadaku; sesungguhnya Dialah Yang Mahengetahui lagi Mahabijaksana." (QS Yusuf: 83)
Maksudnya, kesabaranku atas kehilangan anak-anakku adalah kesabaran yang indah, tanpa keluh kesah dan tanpa putus asa. Aku berharap Allah mengembalikan mereka semua kepadaku.
Dia Maha Mengetahui kesendirianku, kehilangan dan kesedihanku, serta Maha Bijaksana dalam mengatur seluruh makhluk-Nya.

8 hours ago
5

















































